PENGARUH BUKU TEKS GEOGRAFI PADA PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SEKOLAH
Oleh: Ratri Wulandari
BAB I
Oleh: Ratri Wulandari
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sumber belajar merupakan salah satu
komponen penting dalam proses
belajar mengajar.
Siswa yang
memiliki kompetensi yang utuh dan tuntas (mastery
learning), membutuhkan seorang guru yang kreatif dan inovatif, terutama
dalam hal sumber pembelajaran. Sumber belajar dapat membantu siswa untuk
mencapai tujuan belajar terhadap materi yang sedang dipelajari. Degeng
(1990) menjelaskan bahwa "sumber belajar mencakup semua sumber yang dapat
dipergunakan oleh siswa agar terjadi proses belajar. Sumber belajar dapat diperoleh dari berbagai sumber, baik dari buku, perpustakaan,
lingkungan tempat belajar, orang yang ahli, dan dari peristiwa yang terjadi.
Dalam
proses belajar mengajar,
komponen sumber belajar dimanfaatkan secara tunggal maupun secara kombinasi.Sumber belajar akan lebih bermakna jika
siswa maupun guru dapat mengorganisasikan sesuatu melalui suatu rancangan yang
memungkinkan seseorang dapat memanfaatkannya sebagai bahan untuk belajar.
Seorang guru, dalam pengembangan pembelajaran mempunyai kebutuhan untuk
mendesain buku teks yang sesuai kurikulum yang berlaku.
Bahan ajar merupakan segala bentuk
bahan yang digunakan untuk membantu guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan
pembelajaran. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun tidak
tertulis. Terdapat lima macam bahan ajar apabila dilihat dari jenisnya, salah
satunya adalah bahan cetak (printed)
contohnya adalah buku teks. Buku teks merupakan komponen penting dalam setiap
kegiatan pembelajaran berlangsung. Tujuan penggunaan buku teks, yaitu sebagai
alat penunjang atau pendukung dalam kegiatan pembelajaran agar berlangsung
lancar, serta tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai oleh para
siswa. Hal tersebut terjadi pada semua mata pelajaran yang diajarkan, begitu
juga untuk mata pelajaran Geografi.
Masalah
yang sering dihadapi guru dalam pembelajaran adalah memilih dan menentukan
bahan ajar yang tepat dalam proses pembelajaran untuk membantu siswa mencapai kompetensi. Hal ini disebabkan karena dalam kurikulum atau silabus,
materi bahan ajar hanya dituliskan secara garis besar dalam bentuk materi
pokok. Selanjutnya menjadi tugas guru untuk menjabarkan materi pokok tersebut
sehingga menjadi bahan ajar yang lengkap. Secara umum masalah pemilihan bahan
ajar meliputi cara penentuan jenis materi, kedalaman materi, ruang lingkup materi, urutan
penyajian materi, perlakuan (treatment)
terhadap materi pembelajaran, dan sebagainya. Masalah lain tentang
bahan ajar adalah memilih sumber di mana bahan ajar itu didapatkan. Ada
kecenderungan sumber bahan ajar dititikberatkan pada buku teks.
Padahal banyak sumber bahan ajar selain buku yang dapat digunakan. Bukupun
tidak harus satu macam dan tidak harus sering berganti. Berbagai buku dapat
dipilih sebagai sumber bahan ajar.
Pada umumnya buku teks merupakan sumber utama dalam kegiatan
belajar mengajar. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian maxim dalam purwanto
(1996) yang menerangkan bahwa betapa pentingnya buku teks bagi guru dan siswa
dalam kegiatan pembelajaran. Bagi guru, buku teks merupakan sumber informasi
yang dapat dijadikan sebagai pedoman mengajar atau bahkan sebagai buku teks
yang harus di transfer kepada siswa. Bagi siswa, buku teks merupakan sumber
belajar utama dengan harapan dapat meningkatkan kemampuan siswa sehingga tujuan
belajar bisa tercapai.
Buku teks tidak dapat dipisahkan dari proses belajar mengajar. Sebagai
media dan sumber pembelajaran, buku teks mampu mentransformasikan ilmu
pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan yang berkaitan dengan kompetensi dasar yang
diajarkan. Pemilihan buku teks sangat penting berkaitan dengan kualitas serta
kesesuaian materi dengan kurikulum yang berlaku (KTSP). Dalam pembelajaran di
kelas guru tidak lepas dari buku teks yang digunakan sebagai sumber dan media
pembelajaran. Buku teks dapat mendampingi guru dalam proses mengajar. Buku teks
pelajaran merupakan sumber belajar dan media yang sangat penting untuk
mendukung tercapainya kompetensi yang menjadi tujuan pembelajaran.
Sebagian besar guru cenderung
memanfaatkan buku teks dalam pembelajaran dan guru sebagai sumber belajar
utama. Ungkapan ini diperkuat oleh Parcepal dan Ellington (1984) bahwa
"dari sekian banyak sumber belajar hanya buku teks yang banyak
dimanfaatkan". Keadaan ini membuat semakin parah pemanfaatan buku sebagai
sumber belajar yang masih bergantung pada kehadiran guru. Berdasarkan pendapat Zevin (dalam Purwanto, 2001) bahwa "guru IPS pada umumnya bergantung pada buku teks
sebagai bagian utama pengajaran mereka.Walaupun para guru, termasuk guru
Geografi sangat bergantung pada buku teks, kondisi buku teks yang ada belum
menunjukkan buku yang berkualitas". Selain digunakan oleh para guru, siswa juga menggunakan buku teks dalam
setiap kegiatan pembelajarannya. Tujuan penggunaan buku tersebut untuk menambah
penjelasan yang tidak diperolehnya dari guru pada saat kegiatan pembelajaran
berlangsung di sekolah.
Apabila buku teks
yang digunakan oleh siswa tersebut banyak terdapat kesalahan konsep, maka dapat
berakibat pada pemahaman siswa tentang konsep sehingga terjadi perbedaan
pemahaman antara pemahaman siswa dengan materi yang dimaksudkan dalam buku teks
tersebut. Mengingat pentingnya konsep yang terdapat di dalam buku teks, konsep
di setiap buku teks hendaknya harus sesuai dengan kepustakaan geografi sehingga
tidak menimbulkan pemahaman yang berbeda antara penyusun dengan guru dan siswa
yang menggunakan buku teks tersebut. Namun kenyataannya, banyak buku teks yang
beredar kurang memperhatikan kebenaran konsep. Berdasarkan penelitian Purwanto
(2001) bahwa "kondisi buku teks IPS Geografi masih memprihatinkan, karena
disamping banyak mengandung kesalahan, juga hanya berisi pesan pembelajaran
geografi tingkat rendah, pengetahuan dan pemahaman belum mencapai tingkat
pemecahan masalah".
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, dapat diketahui bahwa guru Geografi sangat bergantung
pada buku teks dalam proses belajar mengajar meskipun kondisi buku teks
geografi yang ada belum menunjukkan buku yang berkualitas. Rendahnya kualitas
buku teks geografi terletak pada kesalahan konsep, ketidaksesuaian materi
dengan kurikulum, kebenaran penggunaan bahasa masih rendah, serta ketidaksesuaian
fungsi gambar terhadap materi yang sedang dijelaskan.
C. Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka dapat diketahui tujuan penulisan makalah ini,
adalah untuk mengetahui kualitas buku teks geografi yang digunakan dalam proses
belajar mengajar geografi di sekolah. Kualitas buku teks geografi tersebut
meliputi kebenaran konsep, kesesuaian isi materi dengan kurikulum, kebenaran
penggunaan bahasa, serta kesesuaian fungsi gambar terhadap materi yang sedang
dijelaskan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Peranan
Buku Teks Geografi Pada Proses Belajar Mengajar
Sumber belajar merupakan
informasi yang tersaji dan tersimpan dalam berbagai
bentuk media yang dapat membantu siswa dalam kegiatan
pembelajaran.
Sumber belajar dapat diartikan sebagai
tempat atau lingkungan sekitar, benda dan orang yang
mengandung informasi. Sumber belajar menjadi lebih bermakna, jika siswa maupun guru mampu
mengorganisir melalui suatu rancangan yang memungkinkan
seseorang dapat memanfaatkannya sebagai bahan untuk belajar.
Direktorat Pendidikan Menengah Umum
(2004) menyebutkan bahwa "buku teks adalah sekumpulan tulisan yang dibuat
secara sistematis berisi tentang suatu materi pelajaran tertentu, yang
disiapkan oleh pengarangnya dengan menggunakan acuan kurikulum yang
berlaku". Sedangkan menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 11
Tahun 2005 bahwa "buku teks (buku pelajaran) adalah buku acuan wajib untuk
digunakan di sekolah yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan
keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan kemampuan estetis, potensi fisik dan
kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan".
Buku
teks merupakan komponen penting dalam setiap kegiatan pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan pendapat Indrajit (2009) bahwa "buku teks
pelajaran memiliki peran penting dalam sistem pendidikan nasional, karena buku
teks merupakan satu komponen penting dalam proses pembelajaran". Tujuan penggunaan buku teks, yaitu sebagai alat
pendukung dalam kegiatan pembelajaran agar dapat berlangsung dengan lancar,
serta tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai oleh siswa.
Buku teks sebagai buku pelajaran menjadi
pedoman bagi siswa, guru, dan juga sebagai sumber utama untuk memperdalam ilmu
yang bersangkutan. Buku teks yang baik merupakan sumber belajar yang baik pula.
Oleh karena itu, dapat dikemukakan
bahwa buku teks adalah buku pelajaran yang disusun oleh pakar dalam bidangnya
masing-masing, digunakan pada jenjang tertentu dan dilengkapi dengan sarana
pembelajaran. Pada buku teks geografi, sarana pembelajaran tersebut dapat
berupa peta, globe, atlas, alat peraga geografi dan sarana lain yang dapat
menunjang untuk belajar.
Sebagian besar guru cenderung
memanfaatkan buku teks dalam pembelajaran dan guru sebagai sumber belajar
utama. Ungkapan ini diperkuat oleh Parcepal dan Ellington (1984) bahwa
"dari sekian banyak sumber belajar hanya buku teks yang banyak
dimanfaatkan". Keadaan ini membuat semakin parah pemanfaatan buku sebagai
sumber belajar yang masih bergantung pada kehadiran guru. Berdasarkan pendapat Zevin (dalam Purwanto, 2001) bahwa "guru IPS pada umumnya bergantung pada buku teks
sebagai bagian utama pengajaran mereka.Walaupun para guru, termasuk guru
Geografi sangat bergantung pada buku teks, kondisi buku teks yang ada belum
menunjukkan buku yang berkualitas". Selain digunakan oleh para guru, siswa juga menggunakan buku teks dalam
setiap kegiatan pembelajarannya. Tujuan penggunaan buku tersebut untuk menambah
penjelasan yang tidak diperolehnya dari guru pada saat kegiatan pembelajaran
berlangsung di sekolah.
Di dalam buku teks hendaknya penulis
menggunakan bahasa yang komunikatif dengan pembacanya. Selain itu, juga
menggunakan contoh-contoh yang bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari atau
lingkungan sekitar, karena buku teks yang baik adalah buku yang isinya mudah
dipahami oleh pembaca.
Buku teks mempunyai peranan penting dalam setiap proses pembelajaran
khususnya dalam mata pelajaran geografi. Peranan buku teks adalah sebagai
sumber informasi, memberi motivasi, memberikan pertanyaan, dan menghubungkan
mata pelajaran dengan lingkungan dan pengalaman siswa sehari-hari. Berdasarkan
pendapat Sumarmi (dalam Purwanto, 2000) bahwa "pada kenyataannya banyak
ditemukan buku teks geografi yang hanya memfasilitasi aktivitas belajar siswa
menghafal dan memahami". Oleh karena itu, buku teks tidak hanya berisi
fakta dan konsep yang harus di hafal dan dipahami, melainkan berisi
permasalahan geografi yang harus dipecahkan dengan menggunakan fakta, konsep
teori, dan sebagainya.
B. Kualitas
Buku Teks Geografi
Buku teks yang
digunakan untuk pembelajaran harus merupakan buku teks yang mempunyai kualitas
baik. Apabila buku teks tersebut tergolong berkualitas baik, maka pelajaran
yang ditunjangnya juga akan semakin sempurna. Jadi, buku teks dengan kualitas
yang baik dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran dalam setiap mata
pelajaran. Selain itu, buku teks harus dapat memberikan keuntungan yang
seluas-luasnya bagi pembacanya. Pembaca dapat mengatur sendiri kecepatan dalam
mempelajari materi yang dibaca, memberikan kesempatan untuk mengulang atau
meninjau kembali dengan bebas, waktu membaca buku teks juga dapat diatur
sendiri, serta memberikan kesempatan untuk menyegarkan ingatan pembaca tentang
suatu materi tertentu.
Peningkatkan
kualitas pembelajaran, maka dibutuhkan
buku teks yang berkualitas. Berdasarkan pendapat Indrajit (2009) bahwa
"buku teks yang baik adalah buku teks yang isinya harus mencakup semua
standar kompetensi sesuai tuntutan standar isi, penyajiannya menarik, bahasanya
baku, serta ilustrasi menarik dan tepat". Dengan buku teks yang baik,
diharapkan proses pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa bisa optimal
mencapai standar kompetensi lulusan.
Beberapa hal yang
harus dipenuhi dalam penentuan kualitas suatu buku teks, antara lain, yaitu
dalam hal motivasi siswa, minat siswa, menuntut aktivitas siswa, kebenaran
konsep, kesesuaian materi dengan kurikulum yang berlaku, penggunaan bahasa yang
baik dan benar, serta kesesuaian fungsi gambar dengan materi, dan. Apabila
suatu buku teks tidak memenuhi salah satu kriteria-kriteria yang telah
disebutkan di atas, maka buku teks tersebut dikategorikan sebagai buku yang
kurang baik. Oleh karena itu, buku teks dianggap berkualitas baik, apabila
memenuhi kriteria-kriteria yang telah disebutkan di atas.
1. Kebenaran konsep
Mengingat
pentingnya konsep yang terdapat di dalam buku teks,maka konsep
di setiap buku teks seharusnya sesuai dengan kepustakaan geografi sehingga tidak
menimbulkan pemahaman yang berbeda antara penyusun dengan guru dan siswa yang
menggunakan buku teks tersebut.Namun kenyataannya, banyak buku teks yang
beredar kurang memperhatikan kebenaran konsep. Berdasarkan penelitian Purwanto
(2001) bahwa "kondisi buku teks IPS Geografi masih memprihatinkan, karena
disamping banyak mengandung kesalahan, juga hanya berisi pesan pembelajaran
geografi tingkat rendah, pengetahuan dan pemahaman belum mencapai tingkat
pemecahan masalah".
Apabila
buku teks yang digunakan oleh siswa tersebut banyak terdapat kesalahan konsep,
maka dapat berakibat pada pemahaman siswa tentang konsep sehingga terjadi
perbedaan pemahaman antara pemahaman siswa dengan materi yang dimaksudkan dalam
buku teks tersebut. Misalnya,
materi pendekatan geografi dalam buku teks geografi SMA kelas X semester I
terbitan Erlangga tahun 2006 karangan K. Wardiyatmoko menjelaskan bahwa
pendekatan geografi meliputi pendekatan keruangan,
pendekatan ekologi, pendekatan korologi, dan pendekatan sistem. Sedangkan menurut buku metode analisa
geografi karangan Bintarto dan Hadisumarno, pendekatan geografi meliputi:
a. Pendekatan
keruangan
Analisis
keruangan mempelajari perbedaan lokasi mengenai sifat-sifat penting. Dalam
analisis keruangan yang harus diperhatikan adalah (1). Penyebaran penggunaan
ruang yang telah ada; (2). Penyediaan ruang yang akan digunakan untuk berbagai
kegunaan yang dirancangkan. Pendekatan keruangan merupakan pendekatan yang khas
geografi. Pada pendekatan keruangan pelaksanaannya harus tetap berdasarkan
prinsip-prinsip geografi, yaitu prinsip penyebaran, prinsip interelasi, prinsip
deskripsi, dan prinsip korologi.
Dalam
analisis keruangan ini dapat dikumpulkan data lokasi yang terdiri dari data
titik (point data) dan analisis bidang (areal data), yang digolongkan ke dalam
data titik adalah data ketinggian tempat, data sampel batuan, data sampel
tanah, dan sebagainya. Sedangkan yang digolongkan ke dalam data bidang adalah
data luas hutan, data luas daerah pertanian, data luas padang alang-alang, dan
sebagainya.
b. Pendekatan
ekologi
Studi
mengenai interaksi antara organisme hidup dengan lingkungan disebut ekologi.
Oleh karena itu, untuk mempelajari ekologi, seseorang harus mempelajari
organisme hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan serta lingkungannya
seperti litosfer, hidrosfer, dan atmosfer. Selain itu organisme hidup dapat
pula mengadakan interaksi dengan organisme hidup yang lain.
c. Pendekatan
kompleks wilayah
Kombinasi
antara analisis keruangan dan analisis ekologi disebut analisis kompleks
wilayah. Pada analisis ini, wilayah-wilayah tertentu didekati dengan pengertian
areal differentiation, yaitu suatu anggapan bahwa interaksi antar wilayah akan
berkembang karena pada dasarnya suatu wilayah berbeda dengan wilayah yang
lainnya.
Materi pendekatan
geografi yang terdapat dalam buku teks geografi SMA kelas X semester I terbitan
Erlangga tahun 2006 Karangan K. Wardiyatmoko sudah jelas materinya kurang
sesuai dengan kepustakaan geografi. Jika materi ini di baca oleh siswa maka
akan menimbulkan kesalahan konsep pada diri siswa. Jika hal ini dibiarkan
secara terus-menerus maka bisa dipastikan akan terjadi lebih banyak lagi
kesalahan konsep pada diri siswa.
2. Kesesuaian materi dengan kurikulum
Sesuai
dengan pentingnya buku teks dalam proses pembelajaran, maka diperlukan buku
teks yang penjabaran materi dan kegiatan pembelajarannya sesuai dengan
kurikulum yang berlaku saat
ini. Kesesuaian materi dan
kegiatan pembelajaran dengan kurikulum dapat dilihat dari kesesuaian materi dan
kegiatan pembelajaran yang terdapat didalam silabus. Contoh materi yang tidak sesuai dengan kurikulum, yaitu
pada standart kompetensi konsep,
pendekatan, prinsip, dan aspek geografi yang terdapat dalam buku teks geografi SMA kelas X semester I terbitan
Erlangga tahun 2006 Karangan K. Wardiyatmoko menyebutkan bahwa,
"Geografi
dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari/mengkaji bumi dan segala
sesuatu yang ada di atasnya, seperti penduduk, fauna, flora, iklim, udara, dan
segala interaksinya" (Wardiyatmoko, 2006).
Sedangkan salah
satu indikator pembelajaran silabus KTSP
adalah menganalisa konsep dasar geografi hasil Seminar Lokakarya Semarang pada
tahun 1988, yaitu “geografi
merupakan ilmu yang mempelajari tentang persamaan dan perbedaan gejala alam dan
kehidupan di muka bumi serta interaksi antara manusia dengan lingkungan dalam
konteks keruangan dan kewilayahan”.
3. Penggunaan bahasa
Suatu buku
teks akan dikategorikan sebagai buku yang berkualitas, apabila memenuhi
persyaratan tertentu. Salah satu dari persyaratan itu adalah yang berkaitan
dengan bahasa. Bahasa buku teks harus komunikatif. Menurut Tarigan (1986:137) ”secara umum,
bahasa buku teks harus baku, dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar,
bersih dari anasir asing yang tidak perlu. Bahasa buku harus bebas dari kalimat
yang berbelit-belit dengan pilihan kata yang tepat, menggunakan gaya bahasa
baku (gaya sekolah), penggunaan tanda baca yang relatif baik, sehingga siswa
lebih mudah paham dari buku teks yang sedang dipelajari (lebih bersifat
komunikatif)”. Diemroh (2003:29) mengemukakan:
”Bahasa baku sering juga disebut dengan bahasa standar
yang digunakan oleh orang yang berpendidikan atau dengan kata lain bahasa dunia
pendidikan. Bahasa baku memiliki tiga sifat, yaitu (1) sifat kemantapan
dinamis, berupa kaidah atau aturan yang tetap karena baku atau standar tidak
dapat berubah setiap saat; (2) sifat kecendekiaan, yang berarti bahwa
perwujudannya dalam paragraf, kalimat, esei, atau satuan bahasa lain yang lebih
besar mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis, dan masuk
akal; dan (3) sifat keseragaman, yang berarti bahwa bahasa baku atau bahasa
standar harus memiliki sifat keseragaman dalam penggunaan kaidah bahasa, tetapi
bukan penyamaan ragam bahasa, atau penyamaan variasi bahasa”.
Bahasa buku
juga harus menggunakan ejaan bahasa Indonesia baku atau disebut juga dengan EYD
(Ejaan Yang Disempurnakan). Ejaan adalah penggambaran bunyi bahasa dengan
kaidah tulis menulis yang distandarkan yang lazimnya mempunyai tiga aspek,
yakni aspek fonologis, aspek morfologis, dan aspek sintaksis. Aspek fonologis
berhubungan dengan penggambaran fonem dengan huruf dan penyusunan abjad; aspek
morfologis berhubungan dengan penggambaran satuan-satuan morfemis; dan aspek
sintaksis berhubungan dengan penanda ujaran tanda baca.
4. Kesesuaian fungsi gambar dengan materi
Dalam proses
pembelajaran, siswa akan lebih mudah memahami makna yang terkandung dalam buku
teks apabila
penyampaiannya dibantu dengan menggunakan media, contohnya adalah gambar terutama gambar yang berwarna. Berdasarkan
pendapat Purwanto (1993) bahwa "gambar adalah benda visual dua dimensi
yang memuat atau menampakkan orang, tempat, benda, atau sesuatu
aktivitas". Pesan yang
disampaikan dalam buku teks merupakan informasi yang berupa ide, fakta, makna,
dan data yang berhubungan dengan materi yang disampaikan. Pesan yang
disampaikan ditujukan kepada siswa. Pesan yang disertai dengan gambar dapat
mendorong aktivitas belajar siswa. Gambar yang terdapat dalam buku teks
termasuk dalam kategori sebagai media pendidikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumarmi (2004) bahwa "dalam buku teks untuk
membantu siswa menghafal fakta, memahami konsep, dan generalisasi disajikan
gambar, tetapi masih banyak gambar yang disajikan tanpa penjelasan sehingga
tidak berfungsi".
Sadiman (2002) menyebutkan bahwa
kelebihan media gambar, yaitu: (1) Sifatnya konkrit, gambar lebih realistis
menunjukkan pokok masalah dibandingkan dengan media verbal lainnya; (2) Gambar
dapat mengatasi batasan ruang dan waktu. Misalnya: air terjun Niagara dan Danau
Toba dapat disajikan ke kelas dengan menggunakan gambar/foto; (3) Media gambar
dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita. Sel/penampang daun yang tidak
mungkin kita lihat dengan mata telanjang dapat disajikan dengan jelas dalam
bentuk gambar; (4) Dapat memperjelas suatu masalah dalam bidang apa saja dan untuk tingkat berapa saja
sehingga dapat mencegah/mengatasi kesalahpahaman; serta (5) Murah harganya dan
mudah didapat serta digunakan tanpa memerlukan peralatan khusus. Tetapi media
gambar pada bahan ajar juga memiliki kelemahan dalam pemanfaatannya.
Berdasarkan pendapat Sikhabuden (1995) bahwa keterbatasan media gambar dalam
buku ajar, antara lain: (1) Gambar pada buku ajar ukurannya terlalu kecil; (2)
Gambar tidak berwarna sehingga kurang jelas; (3) Gambar tidak sesuai dengan
materi yang dibahas dalam buku ajar sehingga siswa kesulitan dalam memahami
gambar tersebut.
Untuk menutupi kelemahan tersebut
menurut Poedjiadi dan Agus (1986) diperlukan persyaratan gambar yang harus ada
dalam buku ajar adalah sebagai berikut:
(1).
Gambar tidak terlalu kecil sehingga dapat dilihat dengan jelas; (2).
Bagian-bagian yang penting yang akan ditonjolkan harus diperjelas; (3).
Penggunaan warna hendaknya digunakan untuk memperjelas gambar sehingga lebih
mudah dimengerti; (4). Pencantuman gambar dalam bab atau sub bab hendaknya
dapat mendukung uraian/penjelasan materi yang ditulis; (5). Keterangan gambar
harus memberikan penjelasan mengenai ilustrasi gambar.
Tujuan
pemanfaatan gambar sebagai media pendidikan adalah untuk memperjelas materi
yang sedang dipelajari, dapat mengatasi keterbatasan jangkauan pengamatan
terhadap materi, membangkitkan motivasi belajar siswa, mengkonkritkan pesan
pengajaran yang salah, dan memudahkan siswa untuk memahami materi terutama
materi yang tergolong teori. Berdasarkan pendapat Puwanto (1995)
bahwa "gambar-gambar yang
terdapat dalam buku teks Geografi merupakan gambar-gambar tergolong dalam
simbol visual. Yang termasuk dalam simbol visual, antara lain: (a) gambar dan sketsa; (b) kartoon; (c) diagram; (d) Chart; (e) grafik; dan (f) peta".
Berdasarkan pendapat Chusnah (2009)
bahwa gambar yang terdapat
dalam bahan
ajar memiliki beberapa fungsi,
antara lain: (1) Sebagai pemahaman pokok bahasan; (2) Sebagai informasi tambahan; (3) Sebagai ilustrasi; dan (4) Tidak memiliki
fungsi atau sebagai pemanis.
Dalam pembelajaran, gambar
ilustrasi dalam bahan ajar mempunyai nilai yang sama pentingnya dengan
keberhasilan belajar. Keberadaan gambar ilustrasi dalam bahan ajar akan semakin
bermakna dalam pembelajaran. Oleh karena itu, kualitas pembelajaran dipengaruhi
oleh kualitas media atau gambar ilustrasi yang ada dalam bahan ajar. Jadi dapat
disimpulkan bahwa gambar ilustrasi yang ada dalam bahan ajar dapat berfungsi
untuk menggambarkan masalah, dapat menarik perhatian siswa, dan juga dapat
memudahkan mengenali masalah yang ada dalam bahan ajar.
Banyaknya buku teks yang beredar di sekolah maupun di pasaran maka seorang guru
harus mampu memilih buku teks yang baik dan sesuai dengan tuntutan kurikulum.
Buku teks yang baik adalah buku teks yang berkualitas atau bermutu. Menurut
Geene dan Pety ( Tarigan, 1986: 21) mengemukakan sepuluh kategori yang harus
dipenuhi buku teks yang berkualitas. Sepuluh kategori tersebut sebagai berikut.
1.
Buku teks
haruslah menarik minat siswa yang mempergunakannya.
2.
Buku teks
haruslah mampu memberikan motivasi kepada para siswa yang memakainya.
3.
Buku teks
haruslah memuat ilustrasi yang menarik siswa yang memanfaatkannya.
4.
Buku teks
haruslah mempertimbangkan aspek-aspek linguistik sehingga sesuai dengan
kemampuan para siswa yang memakainya.
5.
Isi buku teks
haruslah berhubungan erat dengan pelajaran-pelajaran lainnya, lebih baik lagi
kalau dapat menunjangnya dengan terencana sehingga semuanya merupakan suatu
kebulatan yang utuh dan terpadu.
6.
Buku teks
haruslah dapat menstimuli, merangsang aktivitas-aktivitas pribadi para siswa
yang mempergunaknnya.
7.
Buku teks
haruslah dengan sadar dan tegas menghindar dari konsep-konsep yang samar-samar
dan tidak biasa, agar tidak embuat bingung siswa yang memakainya.
8.
Buku teks
haruslah mempunyai sudut pandang atau ”point of view” yang jelas dan tegas
sehingga ada akhirnya juga menjadi sudut pandang para pemakainya yang setia.
9.
Buku teks haruslah
mamu memberi pemantapan, penekanan pada nilai-nilai anak dan orang dewasa.
10.
Buku teks
haruslah dapat menghargai perbedaan-perbedaan pribadi para pemakainya.
Tarigan (1986:22) menyebutkan ada
sebelas aspek untuk menentukan kualitas buku teks, yaitu (1) memiliki landasan
prinsip dan sudut pandang yang berdasarkan teori linguistik, ilmu jiwa
perkembangan, dan teori bahan pembelajaran, (2) kejelasan konsep, (3) relevan
dengan kurikulum yang berlaku, (4) sesuai dengan minat siswa, (5) menumbuhkan
motivasi belajar, (6) merangsang, menantang, dan menggairahkan aktivitas siswa,
(7) ilustrasi tepat dan menarik, (8) mudah dipahami siswa, yaitu bahasa yang
digunakan memiliki karakter yang sesuai enan tingkat perkembangan bahasa
siswa, kalimat-kalimatnya efektif, terhindar dari makna ganda, sederhana, sopan
dan menarik, (9) dapat menunjang mata pelajaran lain, (10) menghargai perbedaan
individu, kemampuan, bakat, minat, ekonomi, sosial dan budaya, (11) memantapkan
nilai-nilai budi pekerti yang berlaku di masyarakat.
C.
Fungsi
Buku Teks Sebagai Bahan Ajar
Buku teks pelajaran
dapat berfungsi sebagai bahan sekaligus media pembelajaran.Fungsi tersebut
secara maksimal dapat diperoleh bila buku teks memiliki kualitas yang baik. Buku
Teks memiliki fungsi istimewa dalam pembelajaran karena buku teks menyajikan
fungsi pokok masalah, mencerminkan sudut pandang, menyediakan sumber yang
teratur, menyajikan bahan remedial dan evaluasi, menyajikan gambar, serta
menyediakan aneka metode dan saranapembelajaran (Tarigan dan Djago Tarigan,
1990. Dalam bukunya, Greene dan Petty (1971) menyebutkan bahwa, ada beberapa
fungsi dari buku teks, yaitu sebagai berikut:
a) Mencerminkan suatu
sudut pandang yang tangguh dan modern mengenai pengajaran serta
mendemonstrasikan aplikasinya dalam bahan pengajaran yang disajikan.
b) Menyajikan suatu
sumber pokok masalah yang kaya, mudah dibaca dan bervariasi, yang sesuai dengan
minat dan kebutuhan para siswa.
c) Menyediakan suatu
sumber yang tersusun rapi dan bertahap mengenai keterampilan-keterampilan ekspresional
d) Menyajikan
bersama-sama dengan buku manual yang mendampinginya,mengenai metode-metode dan
sarana-sarana pengajaran untuk memotivasi para siswa.
e) Menyajikan fiksasi
(perasaan yang mendalam) awal yang perlu dan juga sebagai penunjang bagi latihan-latihan
dan tugas-tugas praktis.
f) Menyajikan
bahan atau sarana evaluasi dan remedial yang serasi dan tepat guna.sarana
pengembang bahan dan program dalam kurikulum pendidikan,
g) Sarana pemerlancar tugas akademik guru,
h) Sarana pemerlancar ketercapaian tujuan
pembelajaran, dan
i) Sarana pemerlancar efisiensi dan efektivitas
kegiatan pembelajaran
Dengan membaca buku
teks, siswa atau pembaca dapat mengatur sendiri kecepatan mempelajari suatu
materi pembelajaran sesuai dengan daya tangkapnya masing-masing.Selain itu,
buku teks memberikan kesempatan pada pemiliknya untuk menyegarkan kembali
ingatan tentang materi pembelajaran yang pernah dipelajari.
D. Ketergantungan
Guru Geografi Terhadap Buku Teks
Sekarang ini masih banyak dijumpai proses belajar
mengajar yang berorientasi penuh terhadap
keberadaan buku teks
tanpa melihat kurilulum (khususnya silabus yang telah dirancang) yang menjadi
acuannya. Proses belajar mengajar geografi juga sangat tergantung
pada keberadaan buku teks untuk menunjang proses belajar mengajar geografi. Hal
ini dikarenakan guru kurang mempersiapkan materi yang akan disampaikan kepada
siswanya. Ketergantungan
guru ini dibuktikan dengan gejala-gejala sebagai berikut:
1. Guru menerangkan satu per satu
uraian bahan ajar yang ada pada buku teks, tanpa melihat pokok bahasan yang
terdapat dalam GBPP atau silabus.
2. Guru melakukan langkah-langkah
pembelajaran yang tertuang dalam buku teks, tanpa melihat kesesuaiannya dengan
pembelajaran yang disarankan dalam GBPP atau silabus.
3. Guru mengembangkan rencana atau
skenario pembelajaranb dari bahan ajar yang terdapat dalam buku teks, tanpa
melihat tujuan pembelajaran (kompetensi dasar yang ingin dicapai) dan bahan
ajar (pokok bahasan) yang terdapat dalam GBPP atau silabus.
4. Butir-butir evaluasi pun diambilkan
dari pertanyaan atau tugas yang terdapat dalam buku teks tanpa ada upaya
menghubungkannya dengan atau mengembangkan dari tujuan pembelajaran atau
indikator dari kompetensi dasar yang telah ditentukan.
Ketergantungan guru geografi terhadap keberadaan buku
teks dalam proses belajar mengajar geografi sangat tinggi. Mills dan Doeglass (1957:255-263)
menyebutkan secara rinci faktor penyebab ketergantungan guru terhadap buku teks
sebagai berikut:
1.
Guru
kurang dipersiapkan secara matang tehadap subjek yang diajarkan.
2.
Guru
lebih banyak diberikan problematik bidang studi di tingkat perguruan tinggi,
tetapi sangat kurang disajikan problematik yang relevan denagn sekolah tempat
mereka mengajar.
3.
Guru
kurang dilatih merencanakan bahan pembelajaran.
4. Tradisi yang menganggap bahwa buku teks sebagai sumber lengkap
yang siap disajikan masih sangat dominan.
5. Pengaruh penggunaan tes baku sebagai
alat pengukur prestasi belajar.
Dengan adanya buku teks, maka proses belajar mengajar
geografi akan semakin lancar. Bahkan sebagian besar guru geografi menyampaikan
materi kepada siswanya sama persis dengan kata-kata yang ada di buku teks
tersebut. Hal ini tidak akan berdampak negatif jika buku teks yang digunakan
guru tersebut materinya sesuai dengan kurikulum, konsep yang dijelaskan dibuku
tersebut sesuai dengan referensi, bahasa yang digunakan dalam buku teks
komunikatif, serta gambar yang terdapat dalam buku teks tersebut sesuai dengan
materi yang sedang dijelaskan. Apabila konsep yang terdapat dalam buku teks
tersebut banyak terdapat ketidaksesuaian dengan referensi ataupun tidak sesuai
dengan kurikulum, maka akan mengakibatkan kesalahan konsep pada siswa.
E. Pengaruh
Buku Teks Geografi Terhadap Siswa Pada Proses Belajar Mengajar
Buku
teks geografi sangat berpengaruh kepada siswa dalam proses belajar mnegajar
geografi. Dengan adanya buku teks, maka siswa akan semakin mudah menmperoleh
informasi yang disampaikan gurunya dalam proses belajar mengajar. D. Waples dkk. (1990) mengemukakan
bahwa terdapat 5 pengaruh
buku bagi pembacanya, yaitu:
1.
Pengaruh instrumental, Buku dikatakan mempunyai pengaruh instrumental apabila lewat
membaca buku itu, pembaca memperoleh informasi atau petunjuk yang dapat
membantu pemecahan masalah yang ditemui dalam kehidupannya.
2.
Pengaruh prestise, Buku dikatakan mempunyai pengaruh prestise
apabila setelah membaca buku, pembaca bisa memantapkan pola pikir, tingkah laku
dan sikapnya yang pada akhirnya dapat terangkat prestise dan martabatnya.
3.
Pengaruh pemantapan, Buku dikatakan mempunyai pengaruh
pemantapan (reinforcement) apabila setelah membaca buku, yang bersangkutan
merasa lebih mantap dalam mengambil langkah-langkah dalam kehidupannya.
4.
Pengaruh estetis dan apresiatif, Buku dikatakan dapat berpengaruh
estetis dan apresiatif apabila dengan membaca buku tersebut pembaca dapat
terbina daya seni (estetika) dan apresiasinya
5.
Pengaruh pelepasan, buku dikatakan mempunyai pengaruh pelepasan (respite)
apabila dengan membaca buku, yang bersangkuan bisa melepaskan diri dari
keresahan, kericuhan, dan keruwetan yang ada pada dirinya.
Para
ahli pendidikan berkesimpulan bahwa dengan membaca buku teks, maka
akan berpengaruh terhadap
perkembangan minat, sikap sosial, emosi, dan penalaran siswa. Buku
teks yang beredar dipasaran haruslah buku teks yang berkualitas baik sehingga
materi dan isi yang diterima oleh siswa merupakan materi yang sesuai dengan
kurikulum, terdapat kesesuaian konsep, dan sebagainya. Buku teks yang
dibaca siswa haruslah buku teks yang ideal. Buku teks dapat dikatakan ideal apabila mengandung hal-hal berikut,
yaitu
(a) bisa
memperluas wawasan anak
Buku
dikategorikan “bisa memperluas wawasan anak” apabila buku tersebut berisi
informasi faktual, deskriptif, atau naratif yang belum menjadi perhatian anak.
Misalnya, informasi tentang cara meminum obat, cara mandi yang betul, makanan
sehat, teman yang baik, dan sebagainya.
(b) bisa menambah pengetahuan baru
(b) bisa menambah pengetahuan baru
Buku
dikategorikan “bisa menambah pengetahuan baru” apabila buku tersebut berisi
penjelasan tentang pengetahuan dan kelimuan sederhana yang belum diketahu anak.
Misalnya, proses terjadinya gunung meletus, proses terjadinya hujan, perlunya
kebersihan lingkungan, dan sebagainya.
(c) bisa membimbing berpikir konstruktif
(c) bisa membimbing berpikir konstruktif
Buku
dikategorikan “bisa membimbing berpikir konstruktif” apabila buku tersebut
berisi uraian atau eskripsi yang dapa merangsang anak untuk berpkir secara
rasional. Misalnya, cerita tentang kerugian anak yang malas belajar, keuntungan
anak yang berbaik hati, akbat anak yang ska berbohong, dan sebagainya.
(d) bisa mengarahkan kreativitas
(d) bisa mengarahkan kreativitas
Buku
dikategorikan “bisa mengarahkan kreativitas” apabila buku tersebut berisi
petunjuk atau pedoman paktis yang dapat diterapkan oleh anak dalam
kehidupannya. Misalnya, cara membuat burung dari kertas, cara membuat lampu
minyak, cara menjernihkan air, dan sebagainya.
(e) bisa menumbuhkan sikap moral, sosial, dan agama yang baik
(e) bisa menumbuhkan sikap moral, sosial, dan agama yang baik
Buku
dikategorikan “bisa menumbuhkan sikap moral, sosial, dan agama yang baik”
apabila buku tersebut berisi cerita faktual atau fiksi yang melibatkan
tokoh-tokoh idola yang dapat dipakai sebagai cermin atau dapat ditiru dalam
kehidupan anak. Misalnya, cerita pahlawan, tokoh agama, dermawan cilik, dai
cilik, dan sebagainya.
(f) bisa menuntut ke arah kehidupan yang mandiri
buku dikategorikan “bisa menuntut ke arah kehidupan yang mandiri” apabila buku tersebut berisi cerita tentang solusi atas problema kehidupan. Misalnya, keberhasil anak desa yang sebatang kara, kesuksesan anak cacat netra, berjuang melawan sakit menahun, dan sebagainya.
(f) bisa menuntut ke arah kehidupan yang mandiri
buku dikategorikan “bisa menuntut ke arah kehidupan yang mandiri” apabila buku tersebut berisi cerita tentang solusi atas problema kehidupan. Misalnya, keberhasil anak desa yang sebatang kara, kesuksesan anak cacat netra, berjuang melawan sakit menahun, dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sumber
belajar merupakan salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar. Siswa
yang memiliki kompetensi yang utuh dan tuntas (mastery learning), membutuhkan seorang guru yang kreatif dan
inovatif, terutama dalam hal sumber pembelajaran. Sumber belajar dapat membantu
siswa untuk mencapai tujuan belajar terhadap materi yang sedang dipelajari.
Sumber belajar dapat diperoleh dari berbagai sumber, baik dari
buku, perpustakaan, lingkungan tempat belajar, orang yang ahli, dan dari
peristiwa yang terjadi. Buku
teks merupakan salah satu dari sumber belajar. Buku teks sangat berpengaruh
dalam proses belajar mengajar geografi. Guru dan siswa sangat bergantung pada
buku teks geografi dalam kegiatan belajar mengajar geografi di sekolah. Tetapi
kondisi buku teks geografi sekarang ini kualitasnya masih sangat
memprihatinkan. Hal ini bisa dilihat dari kebenaran konsep, kesesuaian isi
materi dengan kurikulum, kebenaran bahasa, serta fungsi gambar.
Apabila kondisi buku teks geografi
tidak ditingkatkan kualitasnya, maka akan berdampak kurang baik pada siswa, di
antaranya adalah terjadi kesalahan konsep pada siswa, ketidaksesuaian isi
materi dengan kurikulum, bahasa yang digunakna di dalam buku teks kurang
komunikatif, dan ketidaksesuaian fungsi gambar dengan isi materi.
B. SARAN
Saran dari makalah ini diharapkan guru
dan siswa tidak selalu bergantung pada buku teks dalam kegiatan belajar
mengajar. Sebelum menggunakan buku teks tertentu, maka guru hendaknya
melakukaan telaah untuk mengetahui kebenaran konsep, kesesuaian konsep dengan
kurikulum, bahasa yang digunakan komunikatif, serta kesesuaian fungsi gambar
dengan materi.
Usaha perbaikan mutu pembelajaran selain dengan adanya kurikulum yang
terus berkembang harus juga didukung oleh buku pelajaran yang baik sesuai
dengan kurikulum yang berlaku. Buku teks sebagai buku pendukung dalam
pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting, yaitu karena guru
menggunakan buku teks tersebut sebagai acuan dalam proses belajar mengajar.
Jika kualitas buku teks yang digunakan oleh guru di sekolah baik, besar
kemungkinan kualitas pembelajaran yang dilakukan akan baik. Akan tetapi jika
buku teks yang digunakan kurang baik, atau bahkan buruk maka pembelajaran yang
terjadi akan sangat sulit mencapai hasil yang diharapkan
DAFTAR PUSTAKA
Arifana, M. 2007. Pengembangan & Analisa Bahan Ajar Geografi SMP/SMA. Makalah
dipresentasikan pada Seminar Regional Geografi 17 November. Malang: HMJ
Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang.
Chusnah, Nurul.
2009. Analisis Buku Teks Geografi SMA Kelas
X semester II Pada Materi Atmosfer dan Dampaknya Terhadap Kehidupan di Muka
Bumi. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang
Fatchan, A. 2007. Bidang Kajian Geografi, Manfaat dan Pembelajarannya
di Sekolah. Makalah dipresentasikan pada Seminar Regional Geografi 17
November. Malang: HMJ Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang.
Matokan. 2012.Peranan Buku Teks
Dalam Pembelajaran, (Online), (http://www.webbermutu.com), di akses tanggal 6 November 2012
Muslich, masyur. 2008. Ada Apa Dengan Buku Teks, (Online), (http://masnur-muslich.blogspot.com), Di akses tanggal 17 Okt 2012
Purwanto, Edy. 2001. Mengkaji Buku Pelajaran IPS Geografi Untuk
Meningkatkan Kualitas hasil Belajar. Jurnal Pendidikan, 34(1):
25-33)
Purwanto, Edy. 2002. Validasi Bahan Ajar Geografi SMU Berdasarkan
Kurikulum 1994 Di Kota Malang.
Jurnal Pendidikan, 36(1):
93-109
Purwanto,
Edy. 2003. Pengaruh Pengorganisasian Teks
Bidang Studi Geografi Model Beck Dan McKeown, Kemampuan Membaca, Dan Gaya
Belajar Terhadap Perolehan Belajar Membaca Siswa SLTP. Disertasi Tidak
Diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana Universitas negeri Malang.
Sumarmi.
2004. Pencitraan Bahan Ajar Geografi SMU Yang Disusun Berdasarkan Kurikulum
1994. Jurnal Pendidikan, 9(1): 1-11
Swisma. Guru dan Dosen Minim Menulis Buku Teks, (Online), (http:// www.harian-global.com, di
akses tanggal14
Desember 2009)
Tarigan, Henry Guntur dan Djago
Tarigan. 1986. Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia. Bandung: Angkasa
Wulandari, Ratri. 2010.
Analisis Bahan Ajar Geografi Tingkat SMA Kelas X
Semester I Pada Standart Kompetensi Memahami Konsep, Pendekatan, Prinsip, Dan Aspek Geografi. Skripsi tidak
diterbitkan. Malang: Fakultas Ilmu Sosial Universitas
Negeri Malang
sepertinya ini tugas kuliah ya mbak? hehehehe
ReplyDeletebagus dan kreatif, soalnya jarang cewek yang aktif menulis di blog.
saya sangat mengapresiasi :)
iya mas bener skali....
DeleteIya trimakasih...
Saya hanya ingin share ilmu sajjah...
Alhamdulillah kalo bermanfaat bagi orang lain :-)
maaf mbak, boleh tahu judul buku indrajit yg mbak kutip kah?
ReplyDelete