Pages

Geography Education.

Di Blog ini Saya share berbagai informasi yang berhubungan dengan dunia pendidikan khususnya Geography Education

Monday, November 19, 2012

Pengaruh Buku Teks Geografi


PENGARUH BUKU TEKS GEOGRAFI PADA PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SEKOLAH


Oleh: Ratri Wulandari



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Sumber belajar merupakan salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar. Siswa yang memiliki kompetensi yang utuh dan tuntas (mastery learning), membutuhkan seorang guru yang kreatif dan inovatif, terutama dalam hal sumber pembelajaran. Sumber belajar dapat membantu siswa untuk mencapai tujuan belajar terhadap materi yang sedang dipelajari. Degeng (1990) menjelaskan bahwa "sumber belajar mencakup semua sumber yang dapat dipergunakan oleh siswa agar terjadi proses belajar. Sumber belajar dapat diperoleh dari berbagai sumber, baik dari buku, perpustakaan, lingkungan tempat belajar, orang yang ahli, dan dari peristiwa yang terjadi.
Dalam proses belajar mengajar, komponen sumber belajar dimanfaatkan secara tunggal maupun secara kombinasi.Sumber belajar akan lebih bermakna jika siswa maupun guru dapat mengorganisasikan sesuatu melalui suatu rancangan yang memungkinkan seseorang dapat memanfaatkannya sebagai bahan untuk belajar. Seorang guru, dalam pengembangan pembelajaran mempunyai kebutuhan untuk mendesain buku teks yang sesuai kurikulum yang berlaku.
Bahan ajar merupakan segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun tidak tertulis. Terdapat lima macam bahan ajar apabila dilihat dari jenisnya, salah satunya adalah bahan cetak (printed) contohnya adalah buku teks. Buku teks merupakan komponen penting dalam setiap kegiatan pembelajaran berlangsung. Tujuan penggunaan buku teks, yaitu sebagai alat penunjang atau pendukung dalam kegiatan pembelajaran agar berlangsung lancar, serta tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai oleh para siswa. Hal tersebut terjadi pada semua mata pelajaran yang diajarkan, begitu juga untuk mata pelajaran Geografi.
Masalah yang sering dihadapi guru dalam pembelajaran adalah memilih dan menentukan bahan ajar yang tepat dalam proses pembelajaran untuk  membantu siswa mencapai kompetensi. Hal ini disebabkan karena dalam kurikulum atau silabus, materi bahan ajar hanya dituliskan secara garis besar dalam bentuk materi pokok. Selanjutnya menjadi tugas guru untuk menjabarkan materi pokok tersebut sehingga menjadi bahan ajar yang lengkap. Secara umum masalah pemilihan bahan ajar meliputi cara penentuan jenis materi, kedalaman materi, ruang lingkup materi, urutan penyajian materi, perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran, dan sebagainya. Masalah lain tentang bahan ajar adalah memilih sumber di mana bahan ajar itu didapatkan. Ada kecenderungan sumber bahan ajar dititikberatkan pada buku teks. Padahal banyak sumber bahan ajar selain buku yang dapat digunakan. Bukupun tidak harus satu macam dan tidak harus sering berganti. Berbagai buku dapat dipilih sebagai sumber bahan ajar.
Pada umumnya buku teks merupakan sumber utama dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian maxim dalam purwanto (1996) yang menerangkan bahwa betapa pentingnya buku teks bagi guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Bagi guru, buku teks merupakan sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai pedoman mengajar atau bahkan sebagai buku teks yang harus di transfer kepada siswa. Bagi siswa, buku teks merupakan sumber belajar utama dengan harapan dapat meningkatkan kemampuan siswa sehingga tujuan belajar bisa tercapai.
Buku teks tidak dapat dipisahkan dari proses belajar mengajar. Sebagai media dan sumber pembelajaran, buku teks mampu mentransformasikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan yang berkaitan dengan kompetensi dasar yang diajarkan. Pemilihan buku teks sangat penting berkaitan dengan kualitas serta kesesuaian materi dengan kurikulum yang berlaku (KTSP). Dalam pembelajaran di kelas guru tidak lepas dari buku teks yang digunakan sebagai sumber dan media pembelajaran. Buku teks dapat mendampingi guru dalam proses mengajar. Buku teks pelajaran merupakan sumber belajar dan media yang sangat penting untuk mendukung tercapainya kompetensi yang menjadi tujuan pembelajaran.
Sebagian besar guru cenderung memanfaatkan buku teks dalam pembelajaran dan guru sebagai sumber belajar utama. Ungkapan ini diperkuat oleh Parcepal dan Ellington (1984) bahwa "dari sekian banyak sumber belajar hanya buku teks yang banyak dimanfaatkan". Keadaan ini membuat semakin parah pemanfaatan buku sebagai sumber belajar yang masih bergantung pada kehadiran guru. Berdasarkan pendapat Zevin (dalam Purwanto, 2001) bahwa "guru IPS pada umumnya bergantung pada buku teks sebagai bagian utama pengajaran mereka.Walaupun para guru, termasuk guru Geografi sangat bergantung pada buku teks, kondisi buku teks yang ada belum menunjukkan buku yang berkualitas". Selain digunakan oleh para guru, siswa juga menggunakan buku teks dalam setiap kegiatan pembelajarannya. Tujuan penggunaan buku tersebut untuk menambah penjelasan yang tidak diperolehnya dari guru pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung di sekolah.
Apabila buku teks yang digunakan oleh siswa tersebut banyak terdapat kesalahan konsep, maka dapat berakibat pada pemahaman siswa tentang konsep sehingga terjadi perbedaan pemahaman antara pemahaman siswa dengan materi yang dimaksudkan dalam buku teks tersebut. Mengingat pentingnya konsep yang terdapat di dalam buku teks, konsep di setiap buku teks hendaknya harus sesuai dengan kepustakaan geografi sehingga tidak menimbulkan pemahaman yang berbeda antara penyusun dengan guru dan siswa yang menggunakan buku teks tersebut. Namun kenyataannya, banyak buku teks yang beredar kurang memperhatikan kebenaran konsep. Berdasarkan penelitian Purwanto (2001) bahwa "kondisi buku teks IPS Geografi masih memprihatinkan, karena disamping banyak mengandung kesalahan, juga hanya berisi pesan pembelajaran geografi tingkat rendah, pengetahuan dan pemahaman belum mencapai tingkat pemecahan masalah".

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diketahui bahwa guru Geografi sangat bergantung pada buku teks dalam proses belajar mengajar meskipun kondisi buku teks geografi yang ada belum menunjukkan buku yang berkualitas. Rendahnya kualitas buku teks geografi terletak pada kesalahan konsep, ketidaksesuaian materi dengan kurikulum, kebenaran penggunaan bahasa masih rendah, serta ketidaksesuaian fungsi gambar terhadap materi yang sedang dijelaskan.

C.      Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat diketahui tujuan penulisan makalah ini, adalah untuk mengetahui kualitas buku teks geografi yang digunakan dalam proses belajar mengajar geografi di sekolah. Kualitas buku teks geografi tersebut meliputi kebenaran konsep, kesesuaian isi materi dengan kurikulum, kebenaran penggunaan bahasa, serta kesesuaian fungsi gambar terhadap materi yang sedang dijelaskan.



BAB II
PEMBAHASAN

A.      Peranan Buku Teks Geografi Pada Proses Belajar Mengajar
Sumber belajar merupakan informasi yang tersaji dan tersimpan dalam berbagai bentuk media yang dapat membantu siswa dalam kegiatan pembelajaran. Sumber belajar dapat diartikan sebagai tempat atau lingkungan sekitar, benda dan orang yang mengandung informasi. Sumber belajar menjadi lebih bermakna, jika siswa maupun guru mampu mengorganisir melalui suatu rancangan yang memungkinkan seseorang dapat memanfaatkannya sebagai bahan untuk belajar.
Direktorat Pendidikan Menengah Umum (2004) menyebutkan bahwa "buku teks adalah sekumpulan tulisan yang dibuat secara sistematis berisi tentang suatu materi pelajaran tertentu, yang disiapkan oleh pengarangnya dengan menggunakan acuan kurikulum yang berlaku". Sedangkan menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 11 Tahun 2005 bahwa "buku teks (buku pelajaran) adalah buku acuan wajib untuk digunakan di sekolah yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan kemampuan estetis, potensi fisik dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan".
Buku teks merupakan komponen penting dalam setiap kegiatan pembelajaran berlangsung. Berdasarkan pendapat Indrajit (2009) bahwa "buku teks pelajaran memiliki peran penting dalam sistem pendidikan nasional, karena buku teks merupakan satu komponen penting dalam proses pembelajaran". Tujuan penggunaan buku teks, yaitu sebagai alat pendukung dalam kegiatan pembelajaran agar dapat berlangsung dengan lancar, serta tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai oleh siswa.
Buku teks sebagai buku pelajaran menjadi pedoman bagi siswa, guru, dan juga sebagai sumber utama untuk memperdalam ilmu yang bersangkutan. Buku teks yang baik merupakan sumber belajar yang baik pula. Oleh karena itu, dapat dikemukakan bahwa buku teks adalah buku pelajaran yang disusun oleh pakar dalam bidangnya masing-masing, digunakan pada jenjang tertentu dan dilengkapi dengan sarana pembelajaran. Pada buku teks geografi, sarana pembelajaran tersebut dapat berupa peta, globe, atlas, alat peraga geografi dan sarana lain yang dapat menunjang untuk belajar.
Sebagian besar guru cenderung memanfaatkan buku teks dalam pembelajaran dan guru sebagai sumber belajar utama. Ungkapan ini diperkuat oleh Parcepal dan Ellington (1984) bahwa "dari sekian banyak sumber belajar hanya buku teks yang banyak dimanfaatkan". Keadaan ini membuat semakin parah pemanfaatan buku sebagai sumber belajar yang masih bergantung pada kehadiran guru. Berdasarkan pendapat Zevin (dalam Purwanto, 2001) bahwa "guru IPS pada umumnya bergantung pada buku teks sebagai bagian utama pengajaran mereka.Walaupun para guru, termasuk guru Geografi sangat bergantung pada buku teks, kondisi buku teks yang ada belum menunjukkan buku yang berkualitas". Selain digunakan oleh para guru, siswa juga menggunakan buku teks dalam setiap kegiatan pembelajarannya. Tujuan penggunaan buku tersebut untuk menambah penjelasan yang tidak diperolehnya dari guru pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung di sekolah.
Di dalam buku teks hendaknya penulis menggunakan bahasa yang komunikatif dengan pembacanya. Selain itu, juga menggunakan contoh-contoh yang bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari atau lingkungan sekitar, karena buku teks yang baik adalah buku yang isinya mudah dipahami oleh pembaca.
Buku teks mempunyai peranan penting dalam setiap proses pembelajaran khususnya dalam mata pelajaran geografi. Peranan buku teks adalah sebagai sumber informasi, memberi motivasi, memberikan pertanyaan, dan menghubungkan mata pelajaran dengan lingkungan dan pengalaman siswa sehari-hari. Berdasarkan pendapat Sumarmi (dalam Purwanto, 2000) bahwa "pada kenyataannya banyak ditemukan buku teks geografi yang hanya memfasilitasi aktivitas belajar siswa menghafal dan memahami". Oleh karena itu, buku teks tidak hanya berisi fakta dan konsep yang harus di hafal dan dipahami, melainkan berisi permasalahan geografi yang harus dipecahkan dengan menggunakan fakta, konsep teori, dan sebagainya.

B.       Kualitas Buku Teks Geografi
Buku teks yang digunakan untuk pembelajaran harus merupakan buku teks yang mempunyai kualitas baik. Apabila buku teks tersebut tergolong berkualitas baik, maka pelajaran yang ditunjangnya juga akan semakin sempurna. Jadi, buku teks dengan kualitas yang baik dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran dalam setiap mata pelajaran. Selain itu, buku teks harus dapat memberikan keuntungan yang seluas-luasnya bagi pembacanya. Pembaca dapat mengatur sendiri kecepatan dalam mempelajari materi yang dibaca, memberikan kesempatan untuk mengulang atau meninjau kembali dengan bebas, waktu membaca buku teks juga dapat diatur sendiri, serta memberikan kesempatan untuk menyegarkan ingatan pembaca tentang suatu materi tertentu.
Peningkatkan kualitas pembelajaran, maka dibutuhkan buku teks yang berkualitas. Berdasarkan pendapat Indrajit (2009) bahwa "buku teks yang baik adalah buku teks yang isinya harus mencakup semua standar kompetensi sesuai tuntutan standar isi, penyajiannya menarik, bahasanya baku, serta ilustrasi menarik dan tepat". Dengan buku teks yang baik, diharapkan proses pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa bisa optimal mencapai standar kompetensi lulusan.
Beberapa hal yang harus dipenuhi dalam penentuan kualitas suatu buku teks, antara lain, yaitu dalam hal motivasi siswa, minat siswa, menuntut aktivitas siswa, kebenaran konsep, kesesuaian materi dengan kurikulum yang berlaku, penggunaan bahasa yang baik dan benar, serta kesesuaian fungsi gambar dengan materi, dan. Apabila suatu buku teks tidak memenuhi salah satu kriteria-kriteria yang telah disebutkan di atas, maka buku teks tersebut dikategorikan sebagai buku yang kurang baik. Oleh karena itu, buku teks dianggap berkualitas baik, apabila memenuhi kriteria-kriteria yang telah disebutkan di atas.
1.    Kebenaran konsep
Mengingat pentingnya konsep yang terdapat di dalam buku teks,maka konsep di setiap buku teks seharusnya sesuai dengan kepustakaan geografi sehingga tidak menimbulkan pemahaman yang berbeda antara penyusun dengan guru dan siswa yang menggunakan buku teks tersebut.Namun kenyataannya, banyak buku teks yang beredar kurang memperhatikan kebenaran konsep. Berdasarkan penelitian Purwanto (2001) bahwa "kondisi buku teks IPS Geografi masih memprihatinkan, karena disamping banyak mengandung kesalahan, juga hanya berisi pesan pembelajaran geografi tingkat rendah, pengetahuan dan pemahaman belum mencapai tingkat pemecahan masalah".
Apabila buku teks yang digunakan oleh siswa tersebut banyak terdapat kesalahan konsep, maka dapat berakibat pada pemahaman siswa tentang konsep sehingga terjadi perbedaan pemahaman antara pemahaman siswa dengan materi yang dimaksudkan dalam buku teks tersebut. Misalnya, materi pendekatan geografi dalam buku teks geografi SMA kelas X semester I terbitan Erlangga tahun 2006 karangan K. Wardiyatmoko menjelaskan bahwa pendekatan geografi meliputi pendekatan keruangan, pendekatan ekologi, pendekatan korologi, dan pendekatan sistem. Sedangkan menurut buku metode analisa geografi karangan Bintarto dan Hadisumarno, pendekatan geografi meliputi:
a.    Pendekatan keruangan
Analisis keruangan mempelajari perbedaan lokasi mengenai sifat-sifat penting. Dalam analisis keruangan yang harus diperhatikan adalah (1). Penyebaran penggunaan ruang yang telah ada; (2). Penyediaan ruang yang akan digunakan untuk berbagai kegunaan yang dirancangkan. Pendekatan keruangan merupakan pendekatan yang khas geografi. Pada pendekatan keruangan pelaksanaannya harus tetap berdasarkan prinsip-prinsip geografi, yaitu prinsip penyebaran, prinsip interelasi, prinsip deskripsi, dan prinsip korologi.
Dalam analisis keruangan ini dapat dikumpulkan data lokasi yang terdiri dari data titik (point data) dan analisis bidang (areal data), yang digolongkan ke dalam data titik adalah data ketinggian tempat, data sampel batuan, data sampel tanah, dan sebagainya. Sedangkan yang digolongkan ke dalam data bidang adalah data luas hutan, data luas daerah pertanian, data luas padang alang-alang, dan sebagainya.
b.   Pendekatan ekologi
Studi mengenai interaksi antara organisme hidup dengan lingkungan disebut ekologi. Oleh karena itu, untuk mempelajari ekologi, seseorang harus mempelajari organisme hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan serta lingkungannya seperti litosfer, hidrosfer, dan atmosfer. Selain itu organisme hidup dapat pula mengadakan interaksi dengan organisme hidup yang lain.
Organisme hidup                     Lingkungan
c.    Pendekatan kompleks wilayah
Kombinasi antara analisis keruangan dan analisis ekologi disebut analisis kompleks wilayah. Pada analisis ini, wilayah-wilayah tertentu didekati dengan pengertian areal differentiation, yaitu suatu anggapan bahwa interaksi antar wilayah akan berkembang karena pada dasarnya suatu wilayah berbeda dengan wilayah yang lainnya.
Materi pendekatan geografi yang terdapat dalam buku teks geografi SMA kelas X semester I terbitan Erlangga tahun 2006 Karangan K. Wardiyatmoko sudah jelas materinya kurang sesuai dengan kepustakaan geografi. Jika materi ini di baca oleh siswa maka akan menimbulkan kesalahan konsep pada diri siswa. Jika hal ini dibiarkan secara terus-menerus maka bisa dipastikan akan terjadi lebih banyak lagi kesalahan konsep pada diri siswa.

2.    Kesesuaian materi dengan kurikulum
Sesuai dengan pentingnya buku teks dalam proses pembelajaran, maka diperlukan buku teks yang penjabaran materi dan kegiatan pembelajarannya sesuai dengan kurikulum yang berlaku saat ini. Kesesuaian materi dan kegiatan pembelajaran dengan kurikulum dapat dilihat dari kesesuaian materi dan kegiatan pembelajaran yang terdapat didalam silabus. Contoh materi yang tidak sesuai dengan kurikulum, yaitu pada standart kompetensi konsep, pendekatan, prinsip, dan aspek geografi yang terdapat dalam buku teks geografi SMA kelas X semester I terbitan Erlangga tahun 2006 Karangan K. Wardiyatmoko menyebutkan bahwa,

"Geografi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari/mengkaji bumi dan segala sesuatu yang ada di atasnya, seperti penduduk, fauna, flora, iklim, udara, dan segala interaksinya" (Wardiyatmoko, 2006).

Sedangkan salah satu  indikator pembelajaran silabus KTSP adalah menganalisa konsep dasar geografi hasil Seminar Lokakarya Semarang pada tahun 1988, yaitu geografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang persamaan dan perbedaan gejala alam dan kehidupan di muka bumi serta interaksi antara manusia dengan lingkungan dalam konteks keruangan dan kewilayahan”.

3.    Penggunaan bahasa
Suatu buku teks akan dikategorikan sebagai buku yang berkualitas, apabila memenuhi persyaratan tertentu. Salah satu dari persyaratan itu adalah yang berkaitan dengan bahasa. Bahasa buku teks harus komunikatif.  Menurut Tarigan (1986:137) ”secara umum, bahasa buku teks harus baku, dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, bersih dari anasir asing yang tidak perlu. Bahasa buku harus bebas dari kalimat yang berbelit-belit dengan pilihan kata yang tepat, menggunakan gaya bahasa baku (gaya sekolah), penggunaan tanda baca yang relatif baik, sehingga siswa lebih mudah paham dari buku teks yang sedang dipelajari (lebih bersifat komunikatif)”. Diemroh (2003:29) mengemukakan:
”Bahasa baku sering juga disebut dengan bahasa standar yang digunakan oleh orang yang berpendidikan atau dengan kata lain bahasa dunia pendidikan. Bahasa baku memiliki tiga sifat, yaitu (1) sifat kemantapan dinamis, berupa kaidah atau aturan yang tetap karena baku atau standar tidak dapat berubah setiap saat; (2) sifat kecendekiaan, yang berarti bahwa perwujudannya dalam paragraf, kalimat, esei, atau satuan bahasa lain yang lebih besar mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis, dan masuk akal; dan (3) sifat keseragaman, yang berarti bahwa bahasa baku atau bahasa standar harus memiliki sifat keseragaman dalam penggunaan kaidah bahasa, tetapi bukan penyamaan ragam bahasa, atau penyamaan variasi bahasa”.

Bahasa buku juga harus menggunakan ejaan bahasa Indonesia baku atau disebut juga dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Ejaan adalah penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis menulis yang distandarkan yang lazimnya mempunyai tiga aspek, yakni aspek fonologis, aspek morfologis, dan aspek sintaksis. Aspek fonologis berhubungan dengan penggambaran fonem dengan huruf dan penyusunan abjad; aspek morfologis berhubungan dengan penggambaran satuan-satuan morfemis; dan aspek sintaksis berhubungan dengan penanda ujaran tanda baca.

4.    Kesesuaian fungsi gambar dengan materi
Dalam proses pembelajaran, siswa akan lebih mudah memahami makna yang terkandung dalam buku teks apabila penyampaiannya dibantu dengan menggunakan media, contohnya adalah gambar terutama gambar yang berwarna. Berdasarkan pendapat Purwanto (1993) bahwa "gambar adalah benda visual dua dimensi yang memuat atau menampakkan orang, tempat, benda, atau sesuatu aktivitas". Pesan yang disampaikan dalam buku teks merupakan informasi yang berupa ide, fakta, makna, dan data yang berhubungan dengan materi yang disampaikan. Pesan yang disampaikan ditujukan kepada siswa. Pesan yang disertai dengan gambar dapat mendorong aktivitas belajar siswa. Gambar yang terdapat dalam buku teks termasuk dalam kategori sebagai media pendidikan.  Hal ini sesuai dengan pendapat Sumarmi (2004) bahwa "dalam buku teks untuk membantu siswa menghafal fakta, memahami konsep, dan generalisasi disajikan gambar, tetapi masih banyak gambar yang disajikan tanpa penjelasan sehingga tidak berfungsi".
Sadiman (2002) menyebutkan bahwa kelebihan media gambar, yaitu: (1) Sifatnya konkrit, gambar lebih realistis menunjukkan pokok masalah dibandingkan dengan media verbal lainnya; (2) Gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu. Misalnya: air terjun Niagara dan Danau Toba dapat disajikan ke kelas dengan menggunakan gambar/foto; (3) Media gambar dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita. Sel/penampang daun yang tidak mungkin kita lihat dengan mata telanjang dapat disajikan dengan jelas dalam bentuk gambar; (4) Dapat memperjelas suatu masalah dalam bidang apa saja dan untuk tingkat berapa saja sehingga dapat mencegah/mengatasi kesalahpahaman; serta (5) Murah harganya dan mudah didapat serta digunakan tanpa memerlukan peralatan khusus. Tetapi media gambar pada bahan ajar juga memiliki kelemahan dalam pemanfaatannya. Berdasarkan pendapat Sikhabuden (1995) bahwa keterbatasan media gambar dalam buku ajar, antara lain: (1) Gambar pada buku ajar ukurannya terlalu kecil; (2) Gambar tidak berwarna sehingga kurang jelas; (3) Gambar tidak sesuai dengan materi yang dibahas dalam buku ajar sehingga siswa kesulitan dalam memahami gambar tersebut.
Untuk menutupi kelemahan tersebut menurut Poedjiadi dan Agus (1986) diperlukan persyaratan gambar yang harus ada dalam buku ajar adalah sebagai berikut:

(1). Gambar tidak terlalu kecil sehingga dapat dilihat dengan jelas; (2). Bagian-bagian yang penting yang akan ditonjolkan harus diperjelas; (3). Penggunaan warna hendaknya digunakan untuk memperjelas gambar sehingga lebih mudah dimengerti; (4). Pencantuman gambar dalam bab atau sub bab hendaknya dapat mendukung uraian/penjelasan materi yang ditulis; (5). Keterangan gambar harus memberikan penjelasan mengenai ilustrasi gambar.

Tujuan pemanfaatan gambar sebagai media pendidikan adalah untuk memperjelas materi yang sedang dipelajari, dapat mengatasi keterbatasan jangkauan pengamatan terhadap materi, membangkitkan motivasi belajar siswa, mengkonkritkan pesan pengajaran yang salah, dan memudahkan siswa untuk memahami materi terutama materi yang tergolong teori. Berdasarkan pendapat Puwanto (1995) bahwa "gambar-gambar yang terdapat dalam buku teks Geografi merupakan gambar-gambar tergolong dalam simbol visual. Yang termasuk dalam simbol visual, antara lain: (a) gambar dan sketsa; (b) kartoon; (c) diagram; (d) Chart; (e) grafik; dan (f) peta".
Berdasarkan pendapat Chusnah (2009) bahwa gambar yang terdapat dalam bahan ajar memiliki beberapa fungsi, antara lain: (1) Sebagai pemahaman pokok bahasan; (2) Sebagai informasi tambahan; (3) Sebagai ilustrasi; dan (4) Tidak memiliki fungsi atau sebagai pemanis.
Dalam pembelajaran, gambar ilustrasi dalam bahan ajar mempunyai nilai yang sama pentingnya dengan keberhasilan belajar. Keberadaan gambar ilustrasi dalam bahan ajar akan semakin bermakna dalam pembelajaran. Oleh karena itu, kualitas pembelajaran dipengaruhi oleh kualitas media atau gambar ilustrasi yang ada dalam bahan ajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa gambar ilustrasi yang ada dalam bahan ajar dapat berfungsi untuk menggambarkan masalah, dapat menarik perhatian siswa, dan juga dapat memudahkan mengenali masalah yang ada dalam bahan ajar.
Banyaknya buku teks yang beredar di sekolah maupun di pasaran maka seorang guru harus mampu memilih buku teks yang baik dan sesuai dengan tuntutan kurikulum. Buku teks yang baik adalah buku teks yang berkualitas atau bermutu. Menurut Geene dan Pety ( Tarigan, 1986: 21) mengemukakan sepuluh kategori yang harus dipenuhi buku teks yang berkualitas. Sepuluh kategori tersebut sebagai berikut.
1.        Buku teks haruslah menarik minat siswa yang mempergunakannya.
2.        Buku teks haruslah mampu memberikan motivasi kepada para siswa yang memakainya.
3.        Buku teks haruslah memuat ilustrasi yang menarik siswa yang memanfaatkannya.
4.        Buku teks haruslah mempertimbangkan aspek-aspek linguistik sehingga sesuai dengan kemampuan para siswa yang memakainya.
5.        Isi buku teks haruslah berhubungan erat dengan pelajaran-pelajaran lainnya, lebih baik lagi kalau dapat menunjangnya dengan terencana sehingga semuanya merupakan suatu kebulatan yang utuh dan terpadu.
6.        Buku teks haruslah dapat menstimuli, merangsang aktivitas-aktivitas pribadi para siswa yang mempergunaknnya.
7.        Buku teks haruslah dengan sadar dan tegas menghindar dari konsep-konsep yang samar-samar dan tidak biasa, agar tidak embuat bingung siswa yang memakainya.
8.        Buku teks haruslah mempunyai sudut pandang atau ”point of view” yang jelas dan tegas sehingga ada akhirnya juga menjadi sudut pandang para pemakainya yang setia.
9.        Buku teks haruslah mamu memberi pemantapan, penekanan pada nilai-nilai anak dan orang dewasa.
10.    Buku teks haruslah dapat menghargai perbedaan-perbedaan pribadi para pemakainya.
Tarigan (1986:22) menyebutkan ada sebelas aspek untuk menentukan kualitas buku teks, yaitu (1) memiliki landasan prinsip dan sudut pandang yang berdasarkan teori linguistik, ilmu jiwa perkembangan, dan teori bahan pembelajaran, (2) kejelasan konsep, (3) relevan dengan kurikulum yang berlaku, (4) sesuai dengan minat siswa, (5) menumbuhkan motivasi belajar, (6) merangsang, menantang, dan menggairahkan aktivitas siswa, (7) ilustrasi tepat dan menarik, (8) mudah dipahami siswa, yaitu bahasa yang digunakan memiliki karakter yang sesuai enan tingkat  perkembangan bahasa siswa, kalimat-kalimatnya efektif, terhindar dari makna ganda, sederhana, sopan dan menarik, (9) dapat menunjang mata pelajaran lain, (10) menghargai perbedaan individu, kemampuan, bakat, minat, ekonomi, sosial dan budaya, (11) memantapkan nilai-nilai budi pekerti yang berlaku di masyarakat.

C.      Fungsi Buku Teks Sebagai Bahan Ajar
Buku teks pelajaran dapat berfungsi sebagai bahan sekaligus media pembelajaran.Fungsi tersebut secara maksimal dapat diperoleh bila buku teks memiliki kualitas yang baik. Buku Teks memiliki fungsi istimewa dalam pembelajaran karena buku teks menyajikan fungsi pokok masalah, mencerminkan sudut pandang, menyediakan sumber yang teratur, menyajikan bahan remedial dan evaluasi, menyajikan gambar, serta menyediakan aneka metode dan saranapembelajaran (Tarigan dan Djago Tarigan, 1990. Dalam bukunya, Greene dan Petty (1971) menyebutkan bahwa, ada beberapa fungsi dari buku teks, yaitu sebagai berikut:
a) Mencerminkan suatu sudut pandang yang tangguh dan modern mengenai pengajaran serta mendemonstrasikan aplikasinya dalam bahan pengajaran yang disajikan.
b) Menyajikan suatu sumber pokok masalah yang kaya, mudah dibaca dan bervariasi, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan para siswa.
c) Menyediakan suatu sumber yang tersusun rapi dan bertahap mengenai keterampilan-keterampilan ekspresional
d) Menyajikan bersama-sama dengan buku manual yang mendampinginya,mengenai metode-metode dan sarana-sarana pengajaran untuk memotivasi para siswa.
e) Menyajikan fiksasi (perasaan yang mendalam) awal yang perlu dan juga sebagai penunjang bagi latihan-latihan dan tugas-tugas praktis.
f)  Menyajikan bahan atau sarana evaluasi dan remedial yang serasi dan tepat guna.sarana pengembang bahan dan program dalam kurikulum pendidikan,
g)  Sarana pemerlancar tugas akademik guru,
h)  Sarana pemerlancar ketercapaian tujuan pembelajaran, dan
i)   Sarana pemerlancar efisiensi dan efektivitas kegiatan pembelajaran
Dengan membaca buku teks, siswa atau pembaca dapat mengatur sendiri kecepatan mempelajari suatu materi pembelajaran sesuai dengan daya tangkapnya masing-masing.Selain itu, buku teks memberikan kesempatan pada pemiliknya untuk menyegarkan kembali ingatan tentang materi pembelajaran yang pernah dipelajari.

D.      Ketergantungan Guru Geografi Terhadap Buku Teks
Sekarang ini masih banyak dijumpai proses belajar mengajar yang berorientasi penuh terhadap keberadaan buku teks tanpa melihat kurilulum (khususnya silabus yang telah dirancang) yang menjadi acuannya. Proses belajar mengajar geografi juga sangat tergantung pada keberadaan buku teks untuk menunjang proses belajar mengajar geografi. Hal ini dikarenakan guru kurang mempersiapkan materi yang akan disampaikan kepada siswanya. Ketergantungan guru ini dibuktikan dengan gejala-gejala sebagai berikut:
1.  Guru menerangkan satu per satu uraian bahan ajar yang ada pada buku teks, tanpa melihat pokok bahasan yang terdapat dalam GBPP atau silabus.
2.  Guru melakukan langkah-langkah pembelajaran yang tertuang dalam buku teks, tanpa melihat kesesuaiannya dengan pembelajaran yang disarankan dalam GBPP atau silabus.
3.  Guru mengembangkan rencana atau skenario pembelajaranb dari bahan ajar yang terdapat dalam buku teks, tanpa melihat tujuan pembelajaran (kompetensi dasar yang ingin dicapai) dan bahan ajar (pokok bahasan) yang terdapat dalam GBPP atau silabus.
4.  Butir-butir evaluasi pun diambilkan dari pertanyaan atau tugas yang terdapat dalam buku teks tanpa ada upaya menghubungkannya dengan atau mengembangkan dari tujuan pembelajaran atau indikator dari kompetensi dasar yang telah ditentukan.
Ketergantungan guru geografi terhadap keberadaan buku teks dalam proses belajar mengajar geografi sangat tinggi. Mills dan Doeglass (1957:255-263) menyebutkan secara rinci faktor penyebab ketergantungan guru terhadap buku teks sebagai berikut:


1.    Guru kurang dipersiapkan secara matang tehadap subjek yang diajarkan.
2.    Guru lebih banyak diberikan problematik bidang studi di tingkat perguruan tinggi, tetapi sangat kurang disajikan problematik yang relevan denagn sekolah tempat mereka mengajar.
3.    Guru kurang dilatih merencanakan bahan pembelajaran.
4.    Tradisi yang menganggap bahwa buku teks sebagai sumber lengkap yang siap disajikan masih sangat dominan.
5.    Pengaruh penggunaan tes baku sebagai alat pengukur prestasi belajar.

Dengan adanya buku teks, maka proses belajar mengajar geografi akan semakin lancar. Bahkan sebagian besar guru geografi menyampaikan materi kepada siswanya sama persis dengan kata-kata yang ada di buku teks tersebut. Hal ini tidak akan berdampak negatif jika buku teks yang digunakan guru tersebut materinya sesuai dengan kurikulum, konsep yang dijelaskan dibuku tersebut sesuai dengan referensi, bahasa yang digunakan dalam buku teks komunikatif, serta gambar yang terdapat dalam buku teks tersebut sesuai dengan materi yang sedang dijelaskan. Apabila konsep yang terdapat dalam buku teks tersebut banyak terdapat ketidaksesuaian dengan referensi ataupun tidak sesuai dengan kurikulum, maka akan mengakibatkan kesalahan konsep pada siswa.

E.       Pengaruh Buku Teks Geografi Terhadap Siswa Pada Proses Belajar Mengajar
Buku teks geografi sangat berpengaruh kepada siswa dalam proses belajar mnegajar geografi. Dengan adanya buku teks, maka siswa akan semakin mudah menmperoleh informasi yang disampaikan gurunya dalam proses belajar mengajar. D. Waples dkk. (1990) mengemukakan bahwa terdapat 5 pengaruh buku bagi pembacanya, yaitu:
1.    Pengaruh instrumental, Buku dikatakan mempunyai pengaruh instrumental apabila lewat membaca buku itu, pembaca memperoleh informasi atau petunjuk yang dapat membantu pemecahan masalah yang ditemui dalam kehidupannya.
2.    Pengaruh prestise, Buku dikatakan mempunyai pengaruh prestise apabila setelah membaca buku, pembaca bisa memantapkan pola pikir, tingkah laku dan sikapnya yang pada akhirnya dapat terangkat prestise dan martabatnya.
3.    Pengaruh pemantapan, Buku dikatakan mempunyai pengaruh pemantapan (reinforcement) apabila setelah membaca buku, yang bersangkutan merasa lebih mantap dalam mengambil langkah-langkah dalam kehidupannya.
4.    Pengaruh estetis dan apresiatif, Buku dikatakan dapat berpengaruh estetis dan apresiatif apabila dengan membaca buku tersebut pembaca dapat terbina daya seni (estetika) dan apresiasinya
5.    Pengaruh pelepasan, buku dikatakan mempunyai pengaruh pelepasan (respite) apabila dengan membaca buku, yang bersangkuan bisa melepaskan diri dari keresahan, kericuhan, dan keruwetan yang ada pada dirinya.
Para ahli pendidikan berkesimpulan bahwa dengan membaca buku teks, maka akan berpengaruh terhadap perkembangan minat, sikap sosial, emosi, dan penalaran siswa. Buku teks yang beredar dipasaran haruslah buku teks yang berkualitas baik sehingga materi dan isi yang diterima oleh siswa merupakan materi yang sesuai dengan kurikulum, terdapat kesesuaian konsep, dan sebagainya. Buku teks yang dibaca siswa haruslah buku teks yang ideal. Buku teks dapat dikatakan ideal apabila mengandung hal-hal berikut, yaitu
(a) bisa memperluas wawasan anak
Buku dikategorikan “bisa memperluas wawasan anak” apabila buku tersebut berisi informasi faktual, deskriptif, atau naratif yang belum menjadi perhatian anak. Misalnya, informasi tentang cara meminum obat, cara mandi yang betul, makanan sehat, teman yang baik, dan sebagainya.
(b) bisa menambah pengetahuan baru
Buku dikategorikan “bisa menambah pengetahuan baru” apabila buku tersebut berisi penjelasan tentang pengetahuan dan kelimuan sederhana yang belum diketahu anak. Misalnya, proses terjadinya gunung meletus, proses terjadinya hujan, perlunya kebersihan lingkungan, dan sebagainya.
(c) bisa membimbing berpikir konstruktif
Buku dikategorikan “bisa membimbing berpikir konstruktif” apabila buku tersebut berisi uraian atau eskripsi yang dapa merangsang anak untuk berpkir secara rasional. Misalnya, cerita tentang kerugian anak yang malas belajar, keuntungan anak yang berbaik hati, akbat anak yang ska berbohong, dan sebagainya.
(d) bisa mengarahkan kreativitas
Buku dikategorikan “bisa mengarahkan kreativitas” apabila buku tersebut berisi petunjuk atau pedoman paktis yang dapat diterapkan oleh anak dalam kehidupannya. Misalnya, cara membuat burung dari kertas, cara membuat lampu minyak, cara menjernihkan air, dan sebagainya.
(e) bisa menumbuhkan sikap moral, sosial, dan agama yang baik
Buku dikategorikan “bisa menumbuhkan sikap moral, sosial, dan agama yang baik” apabila buku tersebut berisi cerita faktual atau fiksi yang melibatkan tokoh-tokoh idola yang dapat dipakai sebagai cermin atau dapat ditiru dalam kehidupan anak. Misalnya, cerita pahlawan, tokoh agama, dermawan cilik, dai cilik, dan sebagainya.
(f) bisa menuntut ke arah kehidupan yang mandiri
buku dikategorikan “bisa menuntut ke arah kehidupan yang mandiri” apabila buku tersebut berisi cerita tentang solusi atas problema kehidupan. Misalnya, keberhasil anak desa yang sebatang kara, kesuksesan anak cacat netra, berjuang melawan sakit menahun, dan sebagainya.


















BAB III
PENUTUP

A.  KESIMPULAN
Sumber belajar merupakan salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar. Siswa yang memiliki kompetensi yang utuh dan tuntas (mastery learning), membutuhkan seorang guru yang kreatif dan inovatif, terutama dalam hal sumber pembelajaran. Sumber belajar dapat membantu siswa untuk mencapai tujuan belajar terhadap materi yang sedang dipelajari.
Sumber belajar dapat diperoleh dari berbagai sumber, baik dari buku, perpustakaan, lingkungan tempat belajar, orang yang ahli, dan dari peristiwa yang terjadi. Buku teks merupakan salah satu dari sumber belajar. Buku teks sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar geografi. Guru dan siswa sangat bergantung pada buku teks geografi dalam kegiatan belajar mengajar geografi di sekolah. Tetapi kondisi buku teks geografi sekarang ini kualitasnya masih sangat memprihatinkan. Hal ini bisa dilihat dari kebenaran konsep, kesesuaian isi materi dengan kurikulum, kebenaran bahasa, serta fungsi gambar.
Apabila kondisi buku teks geografi tidak ditingkatkan kualitasnya, maka akan berdampak kurang baik pada siswa, di antaranya adalah terjadi kesalahan konsep pada siswa, ketidaksesuaian isi materi dengan kurikulum, bahasa yang digunakna di dalam buku teks kurang komunikatif, dan ketidaksesuaian fungsi gambar dengan isi materi.

B.  SARAN
Saran dari makalah ini diharapkan guru dan siswa tidak selalu bergantung pada buku teks dalam kegiatan belajar mengajar. Sebelum menggunakan buku teks tertentu, maka guru hendaknya melakukaan telaah untuk mengetahui kebenaran konsep, kesesuaian konsep dengan kurikulum, bahasa yang digunakan komunikatif, serta kesesuaian fungsi gambar dengan materi.
Usaha perbaikan mutu pembelajaran selain dengan adanya kurikulum yang terus berkembang harus juga didukung oleh buku pelajaran yang baik sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Buku teks sebagai buku pendukung dalam pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting, yaitu karena guru menggunakan buku teks tersebut sebagai acuan dalam proses belajar mengajar. Jika kualitas buku teks yang digunakan oleh guru di sekolah baik,  besar kemungkinan kualitas pembelajaran yang dilakukan akan baik. Akan tetapi jika buku teks yang digunakan kurang baik, atau bahkan buruk maka pembelajaran yang terjadi akan sangat sulit mencapai hasil yang diharapkan




























DAFTAR PUSTAKA

Arifana, M. 2007. Pengembangan & Analisa Bahan Ajar Geografi SMP/SMA. Makalah dipresentasikan pada Seminar Regional Geografi 17 November. Malang: HMJ Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang.

Chusnah, Nurul. 2009. Analisis Buku Teks Geografi SMA Kelas X semester II Pada Materi Atmosfer dan Dampaknya Terhadap Kehidupan di Muka Bumi. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang

Fatchan, A. 2007. Bidang Kajian Geografi, Manfaat dan Pembelajarannya di Sekolah. Makalah dipresentasikan pada Seminar Regional Geografi 17 November. Malang: HMJ Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang.

Matokan. 2012.Peranan Buku Teks Dalam Pembelajaran, (Online), (http://www.webbermutu.com), di akses tanggal 6 November 2012

Muslich, masyur. 2008. Ada Apa Dengan Buku Teks, (Online), (http://masnur-muslich.blogspot.com), Di akses tanggal 17 Okt 2012

Purwanto, Edy. 2001. Mengkaji Buku Pelajaran IPS Geografi Untuk Meningkatkan Kualitas hasil Belajar. Jurnal Pendidikan, 34(1): 25-33)

Purwanto, Edy. 2002. Validasi Bahan Ajar Geografi SMU Berdasarkan Kurikulum 1994 Di Kota Malang. Jurnal Pendidikan, 36(1): 93-109

Purwanto, Edy. 2003. Pengaruh Pengorganisasian Teks Bidang Studi Geografi Model Beck Dan McKeown, Kemampuan Membaca, Dan Gaya Belajar Terhadap Perolehan Belajar Membaca Siswa SLTP. Disertasi Tidak Diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana Universitas negeri Malang.

Sumarmi. 2004. Pencitraan Bahan Ajar Geografi SMU Yang Disusun Berdasarkan Kurikulum 1994. Jurnal Pendidikan, 9(1): 1-11
Swisma. Guru dan Dosen Minim Menulis Buku Teks, (Online), (http:// www.harian-global.com, di akses tanggal14 Desember 2009)

Tarigan, Henry Guntur dan Djago Tarigan. 1986. Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia. Bandung: Angkasa

Wulandari, Ratri. 2010. Analisis Bahan Ajar Geografi Tingkat SMA Kelas X Semester I Pada Standart Kompetensi Memahami Konsep, Pendekatan, Prinsip, Dan Aspek Geografi. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang


3 comments:

  1. sepertinya ini tugas kuliah ya mbak? hehehehe

    bagus dan kreatif, soalnya jarang cewek yang aktif menulis di blog.

    saya sangat mengapresiasi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas bener skali....
      Iya trimakasih...
      Saya hanya ingin share ilmu sajjah...
      Alhamdulillah kalo bermanfaat bagi orang lain :-)

      Delete
  2. maaf mbak, boleh tahu judul buku indrajit yg mbak kutip kah?

    ReplyDelete