Pages

Geography Education.

Di Blog ini Saya share berbagai informasi yang berhubungan dengan dunia pendidikan khususnya Geography Education

Thursday, October 24, 2013

Pengaruh Kompetensi Pedagogik dan Profesional Guru Geografi Terhadap hasil Belajar Siswa SMA



A.    Latar Belakang
Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar. Hasil belajar dapat ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku yang lebih baik pada siswa. Belajar diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri siswa karena adanya interaksi antar individu maupun individu dengan lingkungan (Usman, 1990:2). Perubahan tingkah laku tersebut meliputi aspek pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. Hasil belajar yang maksimal merupakan harapan semua pihak, baik guru maupun siswa. Untuk mencapai hasil belajar yang maksimal, hendaknya guru mempunyai kompetensi yang memadai.
Tinggi rendahnya hasil belajar dapat dipengaruhi oleh faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern, yakni faktor yang berasal dari dalam diri siswa, meliputi kecerdasan, motivasi, minat, bakat. Sedangkan faktor ekstern, yakni faktor yang berasal dari luar diri siswa, meliputi fasilitas, media, metode, bahan, lingkungan, dan guru. Sesuai dengan pernyataan Slameto (2003) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari faktor fisiologis dan psikologis. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa, meliputi faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Kenyataan yang sering ditemui dalam pembelajaran, yakni rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa. Hal ini bisa dibuktikan dengan nilai yang dicapai siswa setelah melakukan evaluasi. Sebagian besar siswa mendapatkan nilai dibawah standar. Nilai yang diperoleh siswa ini menjadi tolok ukur seberapa jauh daya serap siswa terhadap materi yang diterima. Rendahnya nilai siswa diduga disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) rendahnya semangat belajar siswa; (2) kurangnya sarana belajar; (3) kurangnya penggunaan media pembelajaran; (4) rendahnya kompetensi guru dalam mengajar, serta (5) lingkungan yang kurang mendukung.
Hasil belajar yang dicapai siswa akan meningkat apabila dalam pembelajaran, guru menerapkan metode pembelajaran yang menyenangkan dan bervariasi. Guru memiliki peran penting dalam menentukan kualitas pendidikan. Guru juga mempunyai pengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Hamalik (2003:9) mengatakan bahwa ”tenaga kependidikan merupakan suatu komponen yang penting dalam penyelenggaraan pendidikan yang  memiliki tugas mengajar, melatih, meneliti, mengembangkan, mengelola, dan memberikan pelayanan dalam pendidikan”. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas pendidikan, juga harus didukung oleh peningkatan kualitas dan keprofesionalan guru.
Pembelajaran merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Mulyasa (2012:5) mengemukakan bahwa ”tugas dan peran utama guru terletak pada aspek pembelajaran. Peranan guru dalam pembelajaran antara lain sebagai pengajar, motivator, fasilitator, dan sebagainya”. Oleh karena itu, Guru diharapkan dapat menunjukkan kepada siswa tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan (cognitive), sikap dan nilai (afektif), serta keterampilan (psikomotorik).
Guru merupakan tenaga kependidikan yang memiliki tugas utama mendidik, mengajar, melatih, serta mengembangkan potensi yang dimiliki siswa. Seorang guru harus memiliki kompetensi dasar. Menurut Sagala (2011:29) kompetensi yang harus dimiliki guru, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian. Tanpa adanya dukungan kompetensi dasar tersebut, maka dapat dikatakan guru memiliki kualitas yang rendah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kompetensi yang dimiliki guru maka semakin tinggi pula kualitas guru tersebut.
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti pada bulan Maret 2013, di SMA Negeri Kota Pasuruan terlihat bahwa terdapat beberapa guru pengajar mata pelajaran geografi. Setelah melakukan observasi dan wawancara dengan guru tersebut, dapat diketahui bahwa terdapat beberapa guru geografi tidak melakukan pengembangan silabus dan RPP saat pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran tidak bisa dicapai. Metode yang digunakan guru kurang kreatif. Hal ini menyebabkan siswa kurang tertarik dengan materi yang disampaikan serta siswa akan merasa jenuh berada di dalam kelas.
Pada pembelajaran di kelas guru jarang menyampaikan materi geografi. Siswa sering mendapatkan tugas mengerjakan LKS tanpa diterangkan materi terlebih dahulu oleh guru. Siswa menjawab pertanyaan berdasarkan sumber yang ada dan pengetahuan siswa sendiri. Setelah siswa selesai mengerjakan tugas yang telah diberikan, guru melakukan evaluasi berupa pengkoreksian tugas LKS.
Hasil belajar yang dicapai siswa kurang maksimal. Sekitar 50% dari jumlah siswa mempunyai nilai dibawah KKM. Sedangkan pada guru geografi yang lainnya diketahui bahwa guru melakukan persiapan sebelum memulai pembelajaran dikelas. Guru mempersiapkan perangkat pembelajaran, materi pelajaran, guru sering melakukan model pembelajaran yang kreatif dan bervariasi sehingga siswa tidak merasa bosan ketika menerima materi pelajaran. Pada kelas ini, terlihat bahwa hasil belajar siswa tergolong tinggi. Hal ini dapat diketahui bahwa 80% siswa selalu mecapai nilai di atas KKM.
Penyebab perbedaan hasil belajar siswa diduga oleh faktor, yaitu: (1) kurangnya persiapan guru dalam pembelajaran, (2) Kurangnya kemampuan guru menciptakan pembelajaran yang efektif, variasi, kreatif, dan menyenangkan, (3) sebagian besar siswa tidak memperhatikan penjelasan guru di kelas sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai secara maksimal, (4) kurangnya motivasi dalam diri siswa untuk belajar, serta (5) masih banyak ditemukan siswa yang tidak lulus KKM yang disebabkan nilai mereka tidak memenuhi standar. Mulyasa (2011:13) mengemukakan bahwa:
”terdapat dua kunci penting dari peran guru yang berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa, yaitu jumlah waktu efektif yang digunakan guru untuk melakukan pembelajaran di kelas dan kualitas kemampuan guru. Kualitas guru dapat ditinjau dari dua hal, yaitu proses dan hasil. Guru dikatakan berhasil apabila mampu melibatkan sebagian besar siswa secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam pembelajaran. Selain itu dapat dilihat dari motivasi, semangat, serta adanya rasa percaya diri yang tinggi. Sedangkan dari segi hasil, guru dikatakan berhasil apabila pembelajaran yang diberikan mampu mengubah perilaku sebagian besar siswa kearah penguasaan kompetensi dasar yang lebih baik”.

Kompetensi guru berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran. Keberhasilan pada suatu pembelajaran dapat diketahui dari tujuan yang dapat dicapai oleh siswa serta tingginya hasil belajar siswa. Menurut Usman (1990:6) pembelajaran dan hasil belajar siswa sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelolah kelas sehingga siswa mampu mencapai hasil belajar yang maksimal”. Tujuan pembelajaran yang dicapai siswa merupakan salah satu tolok ukur dari kompetensi guru. Restoeningroem dan Satiza (2011) menyimpulkan bahwa ”terdapat hubungan yang signifikan antara kompetensi mengajar guru dengan hasil belajar bahasa jepang”. Pendapat ini didukung juga oleh pendapat Mariono (2010:8) bahwa ” kompetensi guru yang terdiri dari kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar siswa”. Oleh karena itu, keberhasilan pembelajaran dipengaruhi oleh kompetensi guru, terutama kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional.
Kompetensi pedagogik merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki guru. Kompetensi pedagogik, adalah kemampuan mengelola pembelajaran siswa yang meliputi pemahaman siswa, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan siswa untuk mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki siswa. Menurut Standart Nasional Pendidikan pasal 28 ayat (3) kompetensi pedagogik yaitu ”kemampuan mengelola pembelajaran siswa yang meliputi pemahaman siswa, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan siswa untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya”.
Kompetensi pedagogik guru sangat berpengaruhi terhadap hasil belajar siswa. Wulandari (2013) menyatakan bahwa ”kompetensi pedagogik guru berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa”. Hal ini dapat dijelaskan bahwa semakin tinggi kompetensi pedagogik guru maka semakin tinggi pula hasil yang dicapai oleh siswa. Hal ini dikarenakan bahwa keberhasilan pembelajaran di dalam kelas ditentukan oleh kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru. Keberhasilan pembelajaran di dalam kelas dapat ditandai dengan tingginya nilai yang dicapai siswa, dalam hal ini yakni hasil belajar siswa.
Pendapat tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Yulianti di SMPN Kota Indramayu. Yulianti (2012:119) menyimpulkan bahwa ”terdapat hubungan yang sangat kuat dan signifikan antara kompetensi pedagogik guru PAI di SMPN Kota Indramayu dengan hasil belajar siswa”. Selain itu, Febrina (2012:10) menyimpulkan pada penelitian yang telah dilakukannya, bahwa ”kompetensi pedagogik guru berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa di SMAN 1 Tambang. Dari ketiga pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kompetensi pedagogik yang dimiliki guru maka semakin tinggi pula hasil belajar yang dicapai siswa.
Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti di SMA Negeri Kota Pasuruan, kompetensi profesional guru juga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Menurut Standart Nasional Pendidikan pasal 28 ayat (3) bahwa ”kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing siswa untuk memenuhi standar kompetensi yang telah ditetapkan dalam Standar nasional Pendidikan”. Pujasari dan Nurdin (2012:8) menyatakan bahwa hasil belajar siswa SMAN 2 Cimahi dipengaruhi oleh kompetensi profesional guru.  Tingkat keberhasilan siswa tergolong dalam kriteria baik. Pernyataan tersebut diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati (2010:2) bahwa kompetensi profesional guru berpengaruh terhadap hasil belajar KPPI. Jadi dapat penulis disimpulkan bahwa semakin tinggi kompetensi profesional yang dimiliki guru maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan siswa, dalam hal ini yakni hasil belajar siswa.
Kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional sangat penting untuk mendukung pembelajaran. Tanpa adanya kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional, maka guru akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah. Hal ini terlihat dibeberapa SMA Negeri Kota Pasuruan bahwa terdapat beberapa guru geografi kurang memahami karakteristik siswa, tidak menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang disampaikan, kurangnya kemampuan guru dalam membuka pelajaran dan kemampuan mengadakan variasi pembelajaran. Hal ini dikarenakan guru kurang memberi motivasi kepada siswa ketika akan memulai pembelajaran. Selain itu guru hanya menyampaikan kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran secara sepintas.
Guru yang profesional dituntut harus memahami karakteristik setiap siswa, menerapkan metode yang sesuai dengan karakteristik siswa dan materi pelajaran, menguasai materi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa, melakukan evaluasi setelah selesai pembelajaran, serta dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki masing-masing siswa. Namun pada kenyataannya, sebagian guru memiliki kemampuan yang kurang untuk menentukan alat evaluasi. Hal ini terlihat pada penelitian yang dilakukan oleh Suharini (2009:12) bahwa ”kriteria guru pada ketepatan alat evaluasi berada pada kriteria kurang baik. Hal ini dikarenakan kurangnya kompetensi guru dalam memberikan umpan balik dan pelaksanaan penilaian selama pembelajaran berlangsung”.
Kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional guru berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hal ini didukung oleh pendapat Suprapti (2011:1) bahwa ”terdapat pengaruh yang signifikan antara kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional guru terhadap hasil belajar siswa”. Pendapat tersebut didukung oleh kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh Wulandari (2013) bahwa kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional guru berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Dari dua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa juga dipengaruhi oleh kompetensi guru, khususnya kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional.
Pada kenyataannya sebagian guru yang telah menjadi PNS dan mempunyai pengalaman mengajar kurang memiliki kompetensi dasar yang harus dimiliki guru sehingga belum bisa dikatakan sebagai guru profesional. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang rendah, kurangnya kompetensi guru, rendahnya kualitas guru, serta sebagian guru hanya mengejar materi. Hal ini terbukti dengan pada jam-jam mengajar seringkali ditemui guru dengan berseragam dinas berada dipusat perbelanjaan, di pasar, maupun ditempat-tempat umum yang lainnya. Mulyasa (2012:20) menyatakan bahwa:
”Faktor lain yang menyebabkan rendahnya profesionalisme guru, antara lain disebabkan oleh: (1) masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara utuh; (2) belum adanya standar profesional guru sebagaimana tuntutan dinegara-negara maju; (3) adanya perguruan tinggi swasta yang mencetak guru asal jadi tanpa memperhitungkan outputnya kelak di dunia kerja; serta (4) kurangnya motivasi guru dalam meningkatkan kualitas diri karena guru tidak dituntut untuk melakukan penelitian”.

Berdasarkan permasalahan di atas, maka perlu diadakan penelitian tentang pengaruh kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional guru geografi terhadap hasil belajar siswa kelas XII IPS di SMA Negeri Kota Pasuruan.

No comments:

Post a Comment