LATAR
BELAKANG
Sebagai batas antara daratan dan
laut, pantai mempunyai bentuk yang bervariasi dan dapat berubah dari musim ke
musim. Baker dan Kaeoniam (1985) menyatakan bahwa pantai adalah area geografis
dimana faktor-faktor darat dan laut bercampur dan membentuk bentang lahan dan
ekosistem yang unik
Menurut Sutikno (2000) batas
wilayah pantai ke arah darat adalah batas pasang surut, vegetasi air, intrusi
air laut ke dalam tanah, dan konsentrasi ekonomi bahari. Sedangkan kea rah laut
di batasi oleh garis pecahan gelombang dan pengaruh aktivitas manusia di darat.
Kegiatan yang dilaksanakan di daerah aliran sungai yang mengakibatkan proses
erosi dan deposisi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap lingkungan ekosistem
pantai.
Sekitar dua per tiga pantai di Pasuruan
merupakan pantai landai dengan kemiringan lereng kurang dari 3% dan banyak
sungai bermuara di daerah ini. Sungai-sungai tersebut membawa sedimen dari
daratan dan mengendapkannya di sekitar muara sungai yang menyebabkan garis
pantai semakin lama semakin maju ke arah laut. Menurut Sandi (dalam Eko
Kusratmoko, 2000) pantai dengan kemiringan kurang dari 5% dikategorikan sebagai
pantai datar. Pada pantai landai ini, material pantai didominasi oleh lumpur
dan substrat ini sangat baik untuk pertumbuhan vegetasi mangrove. Oleh sebab
itu, pada masa lalu ketebalan hutan mangrove di pantai Pasuruan mencapai
ratusan meter bahkan ada yang melebihi satu kilometer.
Sungai Rejoso, Sungai Sodo, dan
Sungai Petung bersama-sama mengendapkan sedimen. Sedimentasi di daerah muara
ini berlangsung relatif cepat dan terbentuklan delta sungai. Delta sungai yang
terbentuk ini oleh masyarakat sekitar diperebutkan untuk dijadikan tambak. Oleh
sebab itu, di daerah ini sering terjadi konflik social dan bahkan kadang-kadang
sampai membawa korban jiwa.
PEMBAHASAN
Garis pantai pada umumnya mengalami
perubahan dari waktu ke waktu sejalan dengan perubahan alam. Sehingga pemetaan
wilayah pantai dan deteksi perubahan garis pantai merupakan hal yang sangat
penting, antara lain untuk navigasi, pengelolaan sumber daya pantai,
perlindungan ekosistem pantai, serta pengembangan dan perencanaan kawasan
pantai secara berkelanjutan. Perubahan garis pantai akan mempengaruhi kondisi
lingkungan kawasan pantai, misalnya pada berbagai sektor seperti pariwisata,
transportasi laut, keberadaan lahan produktif, keanekaragaman
hayati, hingga pergeseran batas negara. Faktor penyebab perubahn
garis pantai dapat disebabkan oleh faktor alam maupun faktor manusia. Faktor
alam diantaranya gelombang laut, arus laut, angin, sedimentasi sungai, kondisi
tumbuhan pantai serta aktivitas tektonik dan vulkanik. Sedangkan faktor manusia
antara lain pembangunan pelabuhan dan fasilitas – fasilitasnya misalnya breakwater (pemecah ombak), pertambangan,
pengerukan, perusakan vegetasi pantai, pertambakan, perlindungan pantai, serta
reklamasi pantai.
Faktor-faktor penyebab perubahan
garis pantai diantaranya adalah :
1.
Gelombang
Gelombang di
laut dapat dibedakan menjadi beberapa macam yang tergantung pada gaya
pembangkitnya. Gelombang tersebut adalah gelombang angin
yang dibangkitkan oleh tiupan angin di permukaan laut, gelombang pasang surut
dibangkitkan oleh gaya tarik benda-benda langit terutama matahari dan bulan
terhadap bumi, gelombang tsunami terjadi karena letusan gunung berapi atau
gempa di laut. Gelombang dapat menimbulkan energi untuk membentuk pantai,
menimbulkan arus dan transpor sedimen dalam arah tegak lurus dan sepanjang
pantai (Triatmodjo,
1999).
Apabila gelombang yang terjadi
membentuk sudut dengan garis pantai, maka akan terjadi dua proses angkutan
sedimen yang bekerja secara bersamaan, yaitu komponen tegak lurus dan sejajar
garis pantai. Sedimen yang tererosi oleh komponen tegak lurus pantai akan
terangkut oleh arus sepanjang pantai sampai ke lokasi yang cukup jauh.
Akibatnya apabila ditinjau di suatu lokasi, pantai yang mengalami erosi pada
saat terjadi badai tidak dapat terbentuk kembali pada saat gelombang normal,
karena material yang tererosi telah terbawa ke tempat lain. Den
gan demikian,
untuk suatu periode waktu yang panjang, gelombang datang akan membentuk sudut
terhadap garis pantai dapat menyebabkan mundurnya (erosi) garis pantai
(Triatmodjo, 1999).
2.
Arus
Transpor masa dan
momentum dalam penjalaran gelombang menimbulkan arus di dekat pantai. Di
beberapa daerah yang dilintasinya, perilaku gelombang dan arus yang ditimbulkan
berbeda. Di daerah lepas pantai (offshore
zone) gelombang menimbulkan gerak orbit partikel air, gerak orbit partikel
air tidak tertutup sehingga menimbulkan transpor masa air. Transpor tersebut
dapat disertai dengan terangkutnya sedimen dasar dalam arah menuju pantai (onshore) dan meninggalkan pantai (offshore). Gelombang pecah menimbulkan
arus dan turbulensi yang sangat besar yang dapat menggerakkan sedimen
dasar.gerak massa air tersebut disertai dengan terangkutnya sedimen. Arus yang
terjadi si surf zone dan swash zone adalah yang paling penting di dalam
analisis pantai, dimana sangat tergantung pada arah datang gelombang
(Triatmodjo, 1999).
3.
Pasang surut
Pasang surut adalah flutuasi muka air
laut sebagai fungsi waktu karena adalah gaya tarik benda-benda di langit,
terutama matahari dan bulan terhadap massa air laut di bumi. Mesipun massa
bulan jauh lebih kecil dari massa matahari, tetapi karena jaraknya terhadap
bumi jauh lebih dekat, msks pengaruh gaya tarik bulan terhadap bumi lebih besar
daripada pengaruh gaya tarik matahari (Triatmodjo, 2003).
Bentuk pasang surut di berbagai daerah
tidak sama. Di suatu daerah dalam satu hari dapat terjadi satu kali atau dua
kali pasang surut. Secara umum pasang surut di berbagai daerah dapat dibedakan
dalam empat tipe, yaitu:
a. Pasang Surut
Harian Tunggal yaitu dalam satu hari terdapat satu kali pasang dan satu kali
surut.
b. Pasang Surut
Harian Ganda yaitu dalam satu hari terdapat dua kali pasang dan dua kali surut.
c. Pasang Surut
Campuran condong keharian tunggal yaitu dalam satu hari terdapat satu kali
pasang dan satu kali surut tapi kadang-kadang terjadi dua kali pasang atau dua
kali surut.
d. Pasang surut
campuran condong keharian ganda yaitu dalam satu hari terdapat dua kali pasang
dan dua kali surut namun tinggi dan periodenya sangat berbeda
(Triatmodjo, 1999).
4.
Angin
Sirkulasi udara
yang kurang lebih sejajar dengan permukaan bumi disebut angin. Gerakan udara
ini disebabkan oleh perubahan temperatur atmosfer. Waktu udara dipanasi, rapat
massanya berkurang, yang berakibat naiknya udara tersebut yang kemudian diganti
oleh udara yang lebih dingin di sekitarnya. Perubahan temperatur di atmosfer
disebabkan oleh perbedaan penyerapan panas oleh tanah dan air, atau perbedaan
panas gunung dan lembah, perbedaan siang dan malam (Triatmodjo, 2003).
5.
Transport sedimen
Transpor sedimen pantai adalah gerakan
sdimen pantai yang disebabkan oleh gelombang dan arus pembangkitnya. Transpor
sedimen sepanjang pantai terdiri dari dua komponen utama yaitu, transpor
sedimen dengn bentuk mata gergaji di garis pantai dan transpor sedimen
sepanjang pantai di surf zone.Analisis
imbangan sedimen dapat memperkirakan daerah pantai yang mengalami erosi atau
akresi (sedimentasi). Sedimen yang masuk di daerah pantai yang ditinjau
meliputi suplai sedimen dari sungai, material yang berasal dari erosi tebing,
angkutan sedimen sepanjang pantai dan tegak lurus pantai (onshore transport). sedimen yang keluar adalah angkutan sedimen
sepanjang pantai dan tegak lurus pantai (offshore
transport) dan penambangan pasir (Triatmodjo, 1999).
Muara
adalah wilayah badan air yang menjadi pertemuan antara satu atau lebih sungai
pada wilayah pesisir dengan wilayah laut. Muara sangat
terpengaruh oleh kondisi air daratan seperti aliran air tawar dan sedimen,
serta air lautan seperti pasang-surut, gelombang, dan masuknya air asin.
Berikut ini gambar muara sungai Rejoso Kabupaten Pasuruan
A. Perubahan Penggunaan
Lahan Tahun 1981 – 2009
Tabel 1. Penggunaan
Lahan Sekitar Muara Sungai Rejoso Tahun 1981, 2000, dan 2009
No
|
Penggunaan Lahan
|
Tahun 1981
|
Tahun 2000
|
Tahun 2009
|
|||
ha
|
%
|
ha
|
%
|
ha
|
%
|
||
1
2
3
4
5
|
Pemukiman
Sawah Irigasi
Tambak
Hutan Mangrove
Lahan Kosong (Pantai)
|
1,0
53,3
814,0
80,3
-
|
0,1
5,6
85,8
8,5
-
|
11,2
66,5
958,7
54,4
-
|
1,0
6,1
87,9
5,0
-
|
15
48,7
1.050,3
73,4
51,4
|
1,2
3,9
84,8
5,9
4,1
|
Jumlah
|
948,6
|
100
|
1.090,8
|
100
|
123,8
|
100
|
|
Dari tabel di atas, dapat diketahui
bahwa penggunaan lahan untuk tambak merupakan penggunaan lahan utama di sekitar
muara sungai Rejoso kabupaten Pasuruan dan selalu mengalami peningkatan luas
dari tahun ke tahun. Sementara itu hutan mangrove mengalami penurunan cukup
signifikan untuk periode tahun 1981- 2000, sedangkan untuk periode tahun 2000–
2009 mengalami peningkatan meskipun kecil. Lahan untuk permukiman juga
meng-alami peningkatan dari tahun ke tahun. Sawah Irigasi untuk periode tahun
1981 – 2000 mengalami sedikit peningkatan, tetapi pada periode 2000 – 2009
mengalami penurunan. Dari Peta Penggunaan Lahan Tahun 2009 terlihat ada lahan
kosong cukup luas di pantai, merupakan lahan endapan yang baru terbentuk. Sedangkan
perubahan penggunaan lahan di muara sungai Rejoso Kabupaten Pasuruan dari tahun
1981 – 2009, dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2. Perubahan
Penggunaan Lahan Muara Sungai Rejoso Kabupaten Pasuruan Pada Periode Tahun 1981
- 2009
No
|
Penggunaan Lahan
|
Perubahan Penggunaan
Lahan (ha)
|
|
Tahun 1981 – 2000
|
Tahun 2000 – 2009
|
||
1
2
3
4
5
|
Pemukiman
Sawah Irigasi
Tambak
Hutan Mangrove
Lahan Kosong (Pantai)
|
+ 10,2
+ 13,2
+ 144,7
-
25,9
0
|
+ 3,8
-
17,8
+ 91,6
+ 19
+ 51,4
|
Jumlah
|
+ 142,2
|
+ 148
|
|
Dari tabel di atas, dapat diketahui
bahwa perubahan penggunaan lahan untuk tambak merupakan perubahan penggunaan
lahan yang paling besar di sekitar muara sungai Rejoso kabupaten Pasuruan pada
periode tahun 1981 – 2000 yaitu bertambah 144,7 ha. Sedangkan pada tahun 2000 –
2009 mengalami penurunan, yaitu berkurang 17,8 ha. Untuk permukiman pada tahun
1981 – 2000 mengalami peningkatan sekitar 10,2 ha dan pada periode tahun 2000 –
2009 mengalami peningkatan 3,8 ha. Untuk sawah irigasi pada periode tahun 1981
– 2000 mengalami peningkatan 13,2 ha sedangkan pada tahun 2000 – 2009 mengalami
penurunan 17,8 ha. Lahan untuk hutan mangrove
pada periode tahun 1981 – 2000 mengalami penurunan 25,9 ha, sedngkan
pada periode tahun 2000 – 2009 mengalami peningkatan 19 ha. Untuk lahan kosong
(pantai) mengalami peningkatan yang drastis terjadi pada periode tahun 2000 –
2009 yaitu sebesar 51,4 ha.
Tabel 3. Perubahan
Masing-Masing Jenis Lahan Di Sekitar Muara Sungai Rejoso Kabupaten Pasuruan
No
|
Perubahan Jenis Penggunaan
Lahan
|
Luas (ha)
|
|
Tahun 1981 - 2000
|
Tahun 2000 - 2009
|
||
1
2
3
4
5
6
7
8
|
Hutan Mangrove – Tambak
Laut – Hutan Mangrove
Laut – Tambak
Tambak – Hutan Mangrove
Tambak – Pemukiman
Tambak – Sawah
Sawah Irigasi – Tambak
Sawah Irigasi - Pemukiman
|
77,7
48,2
94,1
3,7
7,2
19,7
3,4
3,2
|
30,2
44,5
53,1
51,4
4,8
3,1
16,1
1,6
|
Dari tabel di atas,menunjukkan
bahwa di daerah sekitar muara sungai Rejoso kabupaten Pasuruan telah terjadi
alih fungsi lahan yang cukup signifikan selama 28 tahun terakhir. Peralihan
fungsi lahan tersebut, yaitu hutan mangrove menjadi tambak seluas 107,9 ha, laut
menjadi hutan mangrove dengan luas 92,7 ha, laut menjadi tambak seluas 147,2
ha, tambak menjadi hutan mangrove seluas 55,1 ha, tambak menjadi pemukiman
seluas 12 ha, tambak menjadi sawah seluas 22,8 ha, sawah irigasi menjadi tambak
seluas 19,5 ha, dan sawah irigasi menjadi pemukiman seluas 4,8 ha. Alih fungsi
lahan di sekitar muara sungai Rejoso kabupaten Pasuruan ini akan berpengaruh
terhadap keseimbangan ekosistem di wilayah. Perubahan ekosistem juga akan
berdampak pada perubahan fungsi dan nilai ekonomi ekologis lingkungan.
B. Perubahan Garis Pantai
Muara Sungai Rejoso kabupaten Pasuruan tahun 1981 – 2009
Garis pantai di sekitar muara
Sungai Rejoso semakin lama semakin maju ke arah laut. Dibandingkan dengan
kondisi tahun 1981, majunya garis pantai sampai dengan tahun 2000 terjauh
mencapai 550 meter, sedangkan antara tahun 2000 – 2009 majunya garis pantai
terjauh mencapai 1,5 km atau 1500 meter. Majunya garis pantai ini disebabkan
sedimentasi yang relatif cepat di daerah ini dan sedimen yang diendapkan secara
terus menerus membentuk daratan baru dan menambah luas daratan yang telah ada.
Antara tahun 1981 – 2000 daerah penelitian ini bertambah luasanya sebesar 142,2
ha dan antara tahun 2000 – 2009 daratan
bertambah luas sebesar 148 ha. Dari data tersebut berarti laju pertambahan luas
daratan antara tahun 1981 – 2000 (19
tahun) adalah 7,5 ha/tahun sedangkan antara tahun 2000 – 2009 (9 tahun) adalah 16,4 ha/tahun atau dua kali lipat dari
periode sebelumnya. Peningkatan laju sedimentasi ini merupakan salah satu
parameter tingginya erosi pada lahan atas, oleh sebab itu perlu adanya
pengelolaan Daerah Aliran Sungai yang lebih kompre-hensif agar laju erosi dapat
ditekan.
C. Dampak perubahan garis
pantai terhadap kehidupan sosial masyarakat
Di sepanjang pantai utara Jawa
Timur terutama di daerah muara sungai terjadi sedimentasi yang cukup tinggi,
membentuk tanah sedimen sehingga garis pantai mengalami perubahan (maju ke arah
laut). Pola pemanfaatan delta sungai bersifat homogen, yaitu dimanfaatkan untuk
budidaya perikanan, pertanian dan budidaya hutan bakau. Ditemukan bukti bahwa
terdapat lima komunitas pemanfaatan
delta sungai, yaitu;
kelembagaan pemerintah, masyarakat sebagai kelompok, masyarakat sebagai
individu, pelaku usaha, dan organisasi masyarakat. Majemuknya komunitas yang memanfaatkan
delta sungai mendorong ambiguitas
atau ketidakjelasan atas siapa yang berhak untuk mengelolanya.
Besarnya sedimentasi yang membentuk
delta sungai di sekitar muara sungai Rejoso kabupaten Pasuruan merupakan berkah
bagi penduduk sekitar, sebab dengan kepemilikan lahan yang kecil, penambahan
lahan dari terbentuknya delta sungai dapat menambah lahan yang dapat diusahakan. Pada umumnya
delta sungai di muara Sungai Rejoso kabupaten Pasuruan dimanfaatkan untuk budidaya
tambak bandeng.
Namun demikian karena terdapat
banyak penduduk yang berminat mengusahakan Delta sungai di muara Sungai Rejoso
kabupaten Pasuruan disebabkan pengusahaan tambak dapat mendatangkan keuntungan
ekonomi cukup besar, pengusahaan tanah ini seringkali menimbulkan sengketa
antar penduduk, bahkan sampai menimbulkan kurban jiwa. Hal ini juga disebabkan
proses perijinan hak guna lahan untuk budidaya tambak ini sangat mudah. Bahkan
sepertinya pemerintah tidak mau tahu tentang zone lindung kawasan pantai.
Delta sungai ini merupakan lahan
yang terbentuk sepanjang pantai, oleh sebab itu secara hukum seharusnya milik
pemerintah, karena termasuk dalam zona lindung pantai. Kenyataan di lapangan,
keberadaan tambak di daerah penelitian banyak yang jaraknya sangat dekat dengan
pantai, sehingga secara jelas-jelas telah melanggar batas zona lindung pantai.
No comments:
Post a Comment