Pages

Geography Education.

Di Blog ini Saya share berbagai informasi yang berhubungan dengan dunia pendidikan khususnya Geography Education

Thursday, December 13, 2012

Perubahan Garis Pantai Di Muara Sungai Rejoso Kabupaten Pasuruan



LATAR BELAKANG

Sebagai batas antara daratan dan laut, pantai mempunyai bentuk yang bervariasi dan dapat berubah dari musim ke musim. Baker dan Kaeoniam (1985) menyatakan bahwa pantai adalah area geografis dimana faktor-faktor darat dan laut bercampur dan membentuk bentang lahan dan ekosistem yang unik
Menurut Sutikno (2000) batas wilayah pantai ke arah darat adalah batas pasang surut, vegetasi air, intrusi air laut ke dalam tanah, dan konsentrasi ekonomi bahari. Sedangkan kea rah laut di batasi oleh garis pecahan gelombang dan pengaruh aktivitas manusia di darat. Kegiatan yang dilaksanakan di daerah aliran sungai yang mengakibatkan proses erosi dan deposisi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap lingkungan ekosistem pantai.
Sekitar dua per tiga pantai di Pasuruan merupakan pantai landai dengan kemiringan lereng kurang dari 3% dan banyak sungai bermuara di daerah ini. Sungai-sungai tersebut membawa sedimen dari daratan dan mengendapkannya di sekitar muara sungai yang menyebabkan garis pantai semakin lama semakin maju ke arah laut. Menurut Sandi (dalam Eko Kusratmoko, 2000) pantai dengan kemiringan kurang dari 5% dikategorikan sebagai pantai datar. Pada pantai landai ini, material pantai didominasi oleh lumpur dan substrat ini sangat baik untuk pertumbuhan vegetasi mangrove. Oleh sebab itu, pada masa lalu ketebalan hutan mangrove di pantai Pasuruan mencapai ratusan meter bahkan ada yang melebihi satu kilometer. 
Sungai Rejoso yang berasal dari lereng utara pegunungan Tengger mengalir ke arah utara dan bermuara di Pantai Utara Kabupaten Pasuruan, tepatnya di kecamatan Rejoso. Sungai Rejoso sendiri merupakan batas administrasi dari Desa Patuguran dengan Desa Jarangan, keduanya wilayah kecamatan Rejoso. Berdekatan dengan sungai Rejoso, mengalir dua sungai yang lebih kecil, yaitu Sungai Sodo dan Sungai Petung. Ketiga sungai tersebut bermuara di pantai Pasuruan pada lokasi yang berdekatan.
Sungai Rejoso, Sungai Sodo, dan Sungai Petung bersama-sama mengendapkan sedimen. Sedimentasi di daerah muara ini berlangsung relatif cepat dan terbentuklan delta sungai. Delta sungai yang terbentuk ini oleh masyarakat sekitar diperebutkan untuk dijadikan tambak. Oleh sebab itu, di daerah ini sering terjadi konflik social dan bahkan kadang-kadang sampai membawa korban jiwa.


PEMBAHASAN

Garis pantai pada umumnya mengalami perubahan dari waktu ke waktu sejalan dengan perubahan alam. Sehingga pemetaan wilayah pantai dan deteksi perubahan garis pantai merupakan hal yang sangat penting, antara lain untuk navigasi, pengelolaan sumber daya pantai, perlindungan ekosistem pantai, serta pengembangan dan perencanaan kawasan pantai secara berkelanjutan. Perubahan garis pantai akan mempengaruhi kondisi lingkungan kawasan pantai, misalnya pada berbagai sektor seperti pariwisata, transportasi laut, keberadaan lahan produktif, keanekaragaman hayati, hingga pergeseran batas negara. Faktor penyebab perubahn garis pantai dapat disebabkan oleh faktor alam maupun faktor manusia. Faktor alam diantaranya gelombang laut, arus laut, angin, sedimentasi sungai, kondisi tumbuhan pantai serta aktivitas tektonik dan vulkanik. Sedangkan faktor manusia antara lain pembangunan pelabuhan dan fasilitas – fasilitasnya misalnya  breakwater (pemecah ombak), pertambangan, pengerukan, perusakan vegetasi pantai, pertambakan, perlindungan pantai, serta reklamasi pantai.
Faktor-faktor penyebab perubahan garis pantai diantaranya adalah :
1.        Gelombang
Gelombang di laut dapat dibedakan menjadi beberapa macam yang tergantung pada gaya pembangkitnya. Gelombang tersebut adalah gelombang angin yang dibangkitkan oleh tiupan angin di permukaan laut, gelombang pasang surut dibangkitkan oleh gaya tarik benda-benda langit terutama matahari dan bulan terhadap bumi, gelombang tsunami terjadi karena letusan gunung berapi atau gempa di laut. Gelombang dapat menimbulkan  energi untuk membentuk pantai, menimbulkan arus dan transpor sedimen dalam arah tegak lurus dan sepanjang pantai (Triatmodjo, 1999).
Apabila gelombang yang terjadi membentuk sudut dengan garis pantai, maka akan terjadi dua proses angkutan sedimen yang bekerja secara bersamaan, yaitu komponen tegak lurus dan sejajar garis pantai. Sedimen yang tererosi oleh komponen tegak lurus pantai akan terangkut oleh arus sepanjang pantai sampai ke lokasi yang cukup jauh. Akibatnya apabila ditinjau di suatu lokasi, pantai yang mengalami erosi pada saat terjadi badai tidak dapat terbentuk kembali pada saat gelombang normal, karena material yang tererosi telah terbawa ke tempat lain. Den
gan demikian, untuk suatu periode waktu yang panjang, gelombang datang akan membentuk sudut terhadap garis pantai dapat menyebabkan mundurnya (erosi) garis pantai (Triatmodjo, 1999).
2.        Arus
Transpor masa dan momentum dalam penjalaran gelombang menimbulkan arus di dekat pantai. Di beberapa daerah yang dilintasinya, perilaku gelombang dan arus yang ditimbulkan berbeda. Di daerah lepas pantai (offshore zone) gelombang menimbulkan gerak orbit partikel air, gerak orbit partikel air tidak tertutup sehingga menimbulkan transpor masa air. Transpor tersebut dapat disertai dengan terangkutnya sedimen dasar dalam arah menuju pantai (onshore) dan meninggalkan pantai (offshore). Gelombang pecah menimbulkan arus dan turbulensi yang sangat besar yang dapat menggerakkan sedimen dasar.gerak massa air tersebut disertai dengan terangkutnya sedimen. Arus yang terjadi si surf zone dan swash zone adalah yang paling penting di dalam analisis pantai, dimana sangat tergantung pada arah datang gelombang (Triatmodjo, 1999).
3.        Pasang surut
Pasang surut adalah flutuasi muka air laut sebagai fungsi waktu karena adalah gaya tarik benda-benda di langit, terutama matahari dan bulan terhadap massa air laut di bumi. Mesipun massa bulan jauh lebih kecil dari massa matahari, tetapi karena jaraknya terhadap bumi jauh lebih dekat, msks pengaruh gaya tarik bulan terhadap bumi lebih besar daripada pengaruh gaya tarik matahari (Triatmodjo, 2003).
Bentuk pasang surut di berbagai daerah tidak sama. Di suatu daerah dalam satu hari dapat terjadi satu kali atau dua kali pasang surut. Secara umum pasang surut di berbagai daerah dapat dibedakan dalam empat tipe, yaitu:
a.    Pasang Surut Harian Tunggal yaitu dalam satu hari terdapat satu kali pasang dan satu kali surut.
b.    Pasang Surut Harian Ganda yaitu dalam satu hari terdapat dua kali pasang dan dua kali surut.
c.    Pasang Surut Campuran condong keharian tunggal yaitu dalam satu hari terdapat satu kali pasang dan satu kali surut tapi kadang-kadang terjadi dua kali pasang atau dua kali surut.
d.   Pasang surut campuran condong keharian ganda yaitu dalam satu hari terdapat dua kali pasang dan dua kali surut namun tinggi dan periodenya  sangat berbeda (Triatmodjo, 1999).
4.        Angin
Sirkulasi udara yang kurang lebih sejajar dengan permukaan bumi disebut angin. Gerakan udara ini disebabkan oleh perubahan temperatur atmosfer. Waktu udara dipanasi, rapat massanya berkurang, yang berakibat naiknya udara tersebut yang kemudian diganti oleh udara yang lebih dingin di sekitarnya. Perubahan temperatur di atmosfer disebabkan oleh perbedaan penyerapan panas oleh tanah dan air, atau perbedaan panas gunung dan lembah, perbedaan siang dan malam (Triatmodjo, 2003).
5.        Transport sedimen
Transpor sedimen pantai adalah gerakan sdimen pantai yang disebabkan oleh gelombang dan arus pembangkitnya. Transpor sedimen sepanjang pantai terdiri dari dua komponen utama yaitu, transpor sedimen dengn bentuk mata gergaji di garis pantai dan transpor sedimen sepanjang pantai di surf zone.Analisis imbangan sedimen dapat memperkirakan daerah pantai yang mengalami erosi atau akresi (sedimentasi). Sedimen yang masuk di daerah pantai yang ditinjau meliputi suplai sedimen dari sungai, material yang berasal dari erosi tebing, angkutan sedimen sepanjang pantai dan tegak lurus pantai (onshore transport). sedimen yang keluar adalah angkutan sedimen sepanjang pantai dan tegak lurus pantai (offshore transport) dan penambangan pasir (Triatmodjo, 1999).
Muara adalah wilayah badan air yang menjadi pertemuan antara satu atau lebih sungai pada wilayah pesisir dengan wilayah laut. Muara sangat terpengaruh oleh kondisi air daratan seperti aliran air tawar dan sedimen, serta air lautan seperti pasang-surut, gelombang, dan masuknya air asin. Berikut ini gambar muara sungai Rejoso Kabupaten Pasuruan
 A.  Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 1981 – 2009
Tabel 1. Penggunaan Lahan Sekitar Muara Sungai Rejoso Tahun 1981, 2000, dan 2009
No
Penggunaan Lahan
Tahun 1981
Tahun 2000
Tahun 2009
ha
%
ha
%
ha
%
1
2
3
4
5
Pemukiman
Sawah Irigasi
Tambak
Hutan Mangrove
Lahan Kosong (Pantai)
1,0
53,3
814,0
80,3
-
0,1
5,6
85,8
8,5
-
11,2
66,5
958,7
54,4
-
1,0
6,1
87,9
5,0
-
15
48,7
1.050,3
73,4
51,4
1,2
3,9
84,8
5,9
4,1

Jumlah
948,6
100
1.090,8
100
123,8
100

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa penggunaan lahan untuk tambak merupakan penggunaan lahan utama di sekitar muara sungai Rejoso kabupaten Pasuruan dan selalu mengalami peningkatan luas dari tahun ke tahun. Sementara itu hutan mangrove mengalami penurunan cukup signifikan untuk periode tahun 1981- 2000, sedangkan untuk periode tahun 2000– 2009 mengalami peningkatan meskipun kecil. Lahan untuk permukiman juga meng-alami peningkatan dari tahun ke tahun. Sawah Irigasi untuk periode tahun 1981 – 2000 mengalami sedikit peningkatan, tetapi pada periode 2000 – 2009 mengalami penurunan. Dari Peta Penggunaan Lahan Tahun 2009 terlihat ada lahan kosong cukup luas di pantai, merupakan lahan endapan yang baru terbentuk. Sedangkan perubahan penggunaan lahan di muara sungai Rejoso Kabupaten Pasuruan dari tahun 1981 – 2009, dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2. Perubahan Penggunaan Lahan Muara Sungai Rejoso Kabupaten Pasuruan Pada Periode Tahun 1981 - 2009
No

Penggunaan Lahan
Perubahan Penggunaan Lahan (ha)
Tahun 1981 – 2000
Tahun 2000 – 2009
1
2
3
4
5
Pemukiman
Sawah Irigasi
Tambak
Hutan Mangrove
Lahan Kosong (Pantai)
+ 10,2
+ 13,2
+ 144,7
-          25,9
0
+ 3,8
-          17,8
+ 91,6
+ 19
+ 51,4

Jumlah
+ 142,2
+ 148
Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa perubahan penggunaan lahan untuk tambak merupakan perubahan penggunaan lahan yang paling besar di sekitar muara sungai Rejoso kabupaten Pasuruan pada periode tahun 1981 – 2000 yaitu bertambah 144,7 ha. Sedangkan pada tahun 2000 – 2009 mengalami penurunan, yaitu berkurang 17,8 ha. Untuk permukiman pada tahun 1981 – 2000 mengalami peningkatan sekitar 10,2 ha dan pada periode tahun 2000 – 2009 mengalami peningkatan 3,8 ha. Untuk sawah irigasi pada periode tahun 1981 – 2000 mengalami peningkatan 13,2 ha sedangkan pada tahun 2000 – 2009 mengalami penurunan 17,8 ha. Lahan untuk hutan mangrove  pada periode tahun 1981 – 2000 mengalami penurunan 25,9 ha, sedngkan pada periode tahun 2000 – 2009 mengalami peningkatan 19 ha. Untuk lahan kosong (pantai) mengalami peningkatan yang drastis terjadi pada periode tahun 2000 – 2009 yaitu sebesar 51,4 ha. 
Tabel 3. Perubahan Masing-Masing Jenis Lahan Di Sekitar Muara Sungai Rejoso Kabupaten Pasuruan
No
Perubahan Jenis Penggunaan Lahan
Luas (ha)
Tahun 1981 - 2000
Tahun 2000 - 2009
1
2
3
4
5
6
7
8
Hutan Mangrove – Tambak
Laut – Hutan Mangrove
Laut – Tambak
Tambak – Hutan Mangrove
Tambak – Pemukiman
Tambak – Sawah
Sawah Irigasi – Tambak
Sawah Irigasi - Pemukiman
77,7
48,2
94,1
3,7
7,2
19,7
3,4
3,2
30,2
44,5
53,1
51,4
4,8
3,1
16,1
1,6

Dari tabel di atas,menunjukkan bahwa di daerah sekitar muara sungai Rejoso kabupaten Pasuruan telah terjadi alih fungsi lahan yang cukup signifikan selama 28 tahun terakhir. Peralihan fungsi lahan tersebut, yaitu hutan mangrove menjadi tambak seluas 107,9 ha, laut menjadi hutan mangrove dengan luas 92,7 ha, laut menjadi tambak seluas 147,2 ha, tambak menjadi hutan mangrove seluas 55,1 ha, tambak menjadi pemukiman seluas 12 ha, tambak menjadi sawah seluas 22,8 ha, sawah irigasi menjadi tambak seluas 19,5 ha, dan sawah irigasi menjadi pemukiman seluas 4,8 ha. Alih fungsi lahan di sekitar muara sungai Rejoso kabupaten Pasuruan ini akan berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem di wilayah. Perubahan ekosistem juga akan berdampak pada perubahan fungsi dan nilai ekonomi ekologis lingkungan.

B.  Perubahan Garis Pantai Muara Sungai Rejoso kabupaten Pasuruan tahun 1981 – 2009
Garis pantai di sekitar muara Sungai Rejoso semakin lama semakin maju ke arah laut. Dibandingkan dengan kondisi tahun 1981, majunya garis pantai sampai dengan tahun 2000 terjauh mencapai 550 meter, sedangkan antara tahun 2000 – 2009 majunya garis pantai terjauh mencapai 1,5 km atau 1500 meter. Majunya garis pantai ini disebabkan sedimentasi yang relatif cepat di daerah ini dan sedimen yang diendapkan secara terus menerus membentuk daratan baru dan menambah luas daratan yang telah ada. Antara tahun 1981 – 2000 daerah penelitian ini bertambah luasanya sebesar 142,2 ha dan antara tahun 2000 – 2009  daratan bertambah luas sebesar 148 ha. Dari data tersebut berarti laju pertambahan luas daratan antara tahun 1981 – 2000  (19 tahun) adalah 7,5 ha/tahun sedangkan antara tahun 2000 – 2009 (9 tahun)  adalah 16,4 ha/tahun atau dua kali lipat dari periode sebelumnya. Peningkatan laju sedimentasi ini merupakan salah satu parameter tingginya erosi pada lahan atas, oleh sebab itu perlu adanya pengelolaan Daerah Aliran Sungai yang lebih kompre-hensif agar laju erosi dapat ditekan.

C.  Dampak perubahan garis pantai terhadap kehidupan sosial masyarakat
Di sepanjang pantai utara Jawa Timur terutama di daerah muara sungai terjadi sedimentasi yang cukup tinggi, membentuk tanah sedimen sehingga garis pantai mengalami perubahan (maju ke arah laut). Pola pemanfaatan delta sungai bersifat homogen, yaitu dimanfaatkan untuk budidaya perikanan, pertanian dan budidaya hutan bakau. Ditemukan bukti bahwa terdapat lima komunitas pemanfaatan delta sungai, yaitu; kelembagaan pemerintah, masyarakat sebagai kelompok, masyarakat sebagai individu, pelaku usaha, dan organisasi masyarakat. Majemuknya komunitas yang memanfaatkan delta sungai mendorong ambiguitas atau ketidakjelasan atas siapa yang berhak untuk mengelolanya.
Besarnya sedimentasi yang membentuk delta sungai di sekitar muara sungai Rejoso kabupaten Pasuruan merupakan berkah bagi penduduk sekitar, sebab dengan kepemilikan lahan yang kecil, penambahan lahan dari terbentuknya delta sungai dapat menambah lahan yang dapat diusahakan. Pada umumnya delta sungai di muara Sungai Rejoso kabupaten Pasuruan dimanfaatkan untuk budidaya tambak bandeng. 
Namun demikian karena terdapat banyak penduduk yang berminat mengusahakan Delta sungai di muara Sungai Rejoso kabupaten Pasuruan disebabkan pengusahaan tambak dapat mendatangkan keuntungan ekonomi cukup besar, pengusahaan tanah ini seringkali menimbulkan sengketa antar penduduk, bahkan sampai menimbulkan kurban jiwa. Hal ini juga disebabkan proses perijinan hak guna lahan untuk budidaya tambak ini sangat mudah. Bahkan sepertinya pemerintah tidak mau tahu tentang zone lindung kawasan pantai.
Delta sungai ini merupakan lahan yang terbentuk sepanjang pantai, oleh sebab itu secara hukum seharusnya milik pemerintah, karena termasuk dalam zona lindung pantai. Kenyataan di lapangan, keberadaan tambak di daerah penelitian banyak yang jaraknya sangat dekat dengan pantai, sehingga secara jelas-jelas telah melanggar batas zona lindung pantai.


















No comments:

Post a Comment