Pages

Geography Education.

Di Blog ini Saya share berbagai informasi yang berhubungan dengan dunia pendidikan khususnya Geography Education

Wednesday, May 22, 2013

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN GEOGRAFI



1.      Bagaimana keterkaitan problematika pendidikan bidang studi pendidikan Geografi antara pendidikan tingkat dasar, menengah dan perguruan tinggi?
Setiap siswa mempunyai karakter yang berbeda-beda dalam menerima materi pelajaran. Ada siswa yang cepat memahami materi yang disampaikan oleh guru, ada siswa yang sedang-sedang saja, dan ada siswa yang lambat menerima materi pelajaran. Oleh karena itu peranan guru dalam pembelajaran sangatlah penting. Meskipun dalam kelas yang sama, materi yang sama, serta kelas berbentuk klasikal yang di dalamnya terdapat berbagai macam karakter siswa, guru di tuntut untuk bisa memahami setiap individu siswanya. Hal ini bertujuan agar siswa merasa diperhatikan oleh gurunya, apapun keadaannya siswa tersebut. Sehingga siswa merasa nyaman dalam belajar geografi.
Pendidikan yang diterima siswa secara maksimal, haruslah dibuat sistem pendidikan yang ideal. Yang dimaksud ideal adalah yang memenuhi beberapa kriteria seperti pendidikan yang sesuai umur, sesuai kapasitas kemampuan peserta didik dalam menerima, dan pendidikan yang diberikan secara bertingkat dan bertahap. Pendidikan sesuai umur maksudnya adalah proses belajar dimana materi yang diberikan kepada peserta didik sesuai dengan umurnya. Misalnya siswa SMP tidak cocok jika diajarkan tentang nama-nama ibukota, sungai, gunung, dan sebagianya. Seharusnya materi tersebut sudah diajarkan sejak di bangku SD. Sebaliknya siswa SD juga tidak cocok jika diajarkan tentang sejarah pembentukan bumi dan jagat raya karena materi tersebut sangat sulit untuk kalangan siswa SD
Hubungan antara karakter siswa dengan keluasan dan kedalaman materi geografi yang harus diberikan, sebaiknya guru memberikan materi pelajaran disesuaikan dengan tingkatannya masing-masing. Misalnya: untuk materi peta yang di pelajari di tingkat SD, SMP, dan SMA.
-       Di tingkatan SD siswa mempelajari peta dasar, peta buta dalam lingkup wilayah yang sempit, misalnya lingkup wilayah kota masing-masing. Di tingkatan ini siswa dituntut untuk mengenali peta secara dasar dan membaca peta secara sederhana.
-       Di tingkatan SMP siswa mempelajari peta yang materinya berada pada tingkatan cukup sulit. Siswa di ajak untuk membuat peta sekolah, rumah, dan wilayah sekitar secara sederhana serta menghitung skala peta, memperbesar dan memperkecil peta, serta membaca peta persebaran sumber daya alam di Indonesia, dan sebagainya.
-       Di tingkatan SMA, siswa mempelajari peta yang materinya berada pada tingkatan sulit. Di tingkatan ini siswa belajar untuk membaca peta tematik, peta kontur, membuat peta yang lebih kompleks, proyeksi peta, menghitung kontur suatu wilayah.
-       Di tingkatan perguruan tinggi, mahasiswa mempelajari kartografi, yaitu ilmu bantu pada disiplin ilmu geografi khususnya pada bidang peta. Pada kartografi ini mahasiswa dituntut untuk mempunyai keahlian dalam hal membuat peta beserta semua komponen-komponennya. Membuat berbagai jenis peta secara langsung dengan cara manual mulai dari menghitung luas lokasi yang akan dipetakan, membuat skala, sampai pada peta tesebut menjadi sebuah peta yang siap dikonsumsi oleh publik.

2.      Bagaimana membangun kompetensi guru Geografi yang adaptif untuk menghadapi perkembangan pendidikan masa depan?
Pendidikan merupakan salah satu isu pokok dalam pengembangan suatu bangsa. Hal ini dikarenakan peran pendidikan sebagai “mesin” pencetak generasi yang akan datang (generasi masa depan). Sistem pendidikan harus dibangun dengan dasar yang kuat karena kemungkinan generasi yang dilahirkan ileh dunia pendidikan pada masa depan adalah generasi yang mengidap syndrome “socio idiot”, yaitu generasi yang tidak memiliki kemampuan untuk mandiri, yang tidak memiliki kepekaan-kepekaan sosial, dan asyik dengan dunianya masing-masing.
Manusia juga merupakan irreversible process dan manusia sebagai variabel utama dalam proses tersebut. Oleh karena itu pendidikan harus mampu mengeksplorasi potensi dan talenta siswa sehingga menjadi manusia yang’’sempurna”. Potensi dan talenta tersebut meliputi ranah indrawi, rasio, dan hati nurani.  Hubungan dan pendekatan yang dilakukan dengan siswa masa depan bukan sekedar pendekatan rasionalistis, tetapi harus dikembangkan juga pendekatan emosional dan transendental. Ketiga pendekatan tersebut akan mampu membentuk keutuhan kepribadian guru dan siswa.
Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya. Kompetensi tidak hanya mengandung pengetahuan, keterampilan dan sikap, namun yang penting adalah penerapan dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan tersebut dalam pekerjaan. Kemampuan individu dibentuk oleh dua faktor, yaitu:
a.    kemampuan intelektual, merupakan kemampuan yang diperlukan untuk melakukan kegiatan mental
b.   kemampuan fisik merupakan kemampuan yang di perlukan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, kecekatan, kekuatan, dan keterampilan.
Untuk membangun kompetensi guru geografi yang adaptif untuk menghadapi perkembangan pendidikan masa depan, yakni dengan meningkatkan kompetensi dalam guru geografi tersebut, baik kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Kondisi siswa pada masa depan berada pada era globalisasi dimana siswa dapat mengetahui perkembangan yang terjadi di dunia secara global melalui kecanggihan teknologi, misalnya internet. Dengan mengakses internet maka siswa bisa mengikuti perkembangan informasi yang terjadi di seluruh dunia. Hal ini mengakibatkan siswa memperoleh informasi dari mana saja. Tidak hanya pada guru di sekolah. Bahkan tidak menutup kemungkinan informasi yang di dapat siswa lebih banyak dan lebih cepata daripada informasi yang diketahui oleh guru. Untuk itu guru pada masa depan khususnya guru geografi harus mempersiapkan pembelajaran yang bersifat menyenangkan, tidak bersifat menggurui siswa. Untuk itu diperlukan peningkatan kompetensi guru.

3.      Bagaimana membangun wawasan guru IPS supaya mampu membelajarkan materi IPS dengan pendekatan tematik integratif?
Pembelajaran tematik integratif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Pengintegrasian dilakukan dalam dua hal, yaitu integrasi sikap, ketrampilan dan pengetahuan dalam proses pembelajaran dan integrasi berbagai konsep dasar yang berkaitan. Dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh, tema “Air” dapat ditinjau dari berbagai mata pelajaran seperti IPA, IPS, Matematika, bahasa dan seni. Keuntungan pembelajaran tematik bagi siswa antara lain adalah sebagai berikut:
1.   Bisa lebih memfokuskan diri pada proses belajar, daripada hasil belajar.
2.   Menghilangkan batas semu antar bagian-bagian kurikulum dan menyediakan pendekatan proses belajar yang integratif.
3.   Menyediakan kurikulum yang berpusat pada siswa – yang dikaitkan dengan minat, kebutuhan, dan kecerdasan; mereka didorong untuk membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab pada keberhasilan belajar.
4.   Merangsang penemuan dan penyelidikan mandiri di dalam dan di luar kelas.
5.   Membantu siswa membangun hubungan antara konsep dan ide, sehingga meningkatkan apresiasi dan pemahaman.
Pada dasarnya model pembelajaran terpadu merupakan sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa baik individual maupun kelompok aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik. Pembelajaran terpadu akan terjadi apabila peristiwa-peristiwa otentik atau eksplorasi tema menjdai pengendali di dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan berpartisipasi di dalam eksplorasi tema tersebut, para siswa belajar sekaligus melakukan proses dan siswa belajar berbagai mata pelajaran secara serempak. Dengan penerapan pendidikan integratif proses pengajaran menjadi lebih kompleks, hal ini melibatkan komponen internal dan eksternal. Dua komponen itu berporos dalam satu kesatuan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Komponen internal terdiri atas tujuan, materi pelajaran, metode, media dan evalusi, sedangkan komponen eksternal mencakup guru, oarng tua dan masyarakat sekelilingnya. Pembelajaran terpadu seperti yang dikemukakan Hilda Karli (2003;53) mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1. Berpusat pada anak (student centered)
2. Memberi pengalaman langsung pada anak
3. Pemisahan antar bidang studi tidak begitu jelas
4. Menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran
5. Bersifat luwes
6. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak
7. Holistik, artinya suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu diamati dan dikaji dari beberapa mata pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak
8. Bermakna, artinya pengkajian suatu fenomena dari berbagai macam aspek memungkinkan terbentuknya semacam jalinan antar schemata yang dimiliki siswa. Pada gilirannya nanti akan berdampak kebermaknaan dari meteri yang dipelajari. Siswa mampu menerakan perolehan belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah nyata di dalam kehidupannya.
9. Otentik, artinya informasi dan pengetahuan yang diperoleh sifatnya menjadi otentik. Guru hanya sebagai fasilitator dan katalisator saja sementara itu siswa bertindak sebagai aktor pencari informasi dan pengetahuannya. Artinya siswa memahami sendiri pengetahuan yang diperoleh dari hasil belajar mereka. Oleh karena itu siswa tidak akan cepet lupa dengan pengetahuan yang diperolehnya itu.
10. Aktif, artinya siswa perlu terlibat langsung dan aktif dalam proses pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga proses evaluasinya.
Menurut saya, membangun wawasan guru IPS supaya mampu membelajarkan materi IPS dengan pendekatan tematik integratif yakni dengan cara meningkatkan kompetensi guru IPS khususnya guru geografi. Semakin tinggi kompetensi seorang guru IPS maka semakin mampu untuk membelajarkan materi IPS dengan pendekatan tematik integratif, dimana pendekatan ini saling menghubungkan antara mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain. Pelajaran IPS di tingkat SMP terdiri dari mata pelajaran Geografi, Ekonomi, Sejarah, dan Sosiologi. Guru IPS di SMP harus bisa menghubungankan suatu materi dengan ke empat bidang ilmu tersebut yang termasuk dalam pelajaran IPS. Misalnya pelajaran IPS di SMP membahas tentang materi negara maju dan berkembang. Dari materi tersebut, bisa ditinjau dari empat disiplin ilmu. Di lihat dari kacamata ekonomi, bisa dijelaskan tentang perbedaan perekonomian antara negara maju dan berkembang. Misalnya pendapatan perkapita di negara maju lebih tinggi daripada di negara berkembang sehingga beban ketergantungan di negara maju lebih rendah daripada negara berkembang. Di lihat dari kacamata sosiologi dapat dilihat bahwa perbedaan antara interaksi sosial masyarakat di negara maju dan negara berkembang. Dilihat dari kacamata geografi dapat dilihat bahwa sebagian besar negara maju terdapat di belahan bumi utara dan negara berkembang lebih banyak terdapat dibelahan bumi selatan.

No comments:

Post a Comment