Pages

Geography Education.

Di Blog ini Saya share berbagai informasi yang berhubungan dengan dunia pendidikan khususnya Geography Education

Wednesday, May 22, 2013

ANALISIS BUKU TEKS GEOGRAFI SMA KELAS XII MATERI WILAYAH DAN PERWILAYAHAN



Pengarang       : Totok Gunawan, dkk
Tahun Terbit    : 2007
Judul               : Geografi Untuk SMA Kelas XII
Kota Terbit      : Jakarta
Penerbit           : Inter Plus
Materi              : Wilayah dan Pusat Pertumbuhan


1.   Objek materialnya adalah Antroposfer
2.   Objek formalnya adalah pendekatan kewilayahan
3.   Ilmu bantu yang digunakan, yaitu
a)      Geografi Pengembangan Wilayah
b)      Geografi Regional


WILAYAH DAN PERWILAYAHAN

Wilayah merupakan daerah tertentu yang didalamnya tercipta kesamaan struktur ekonomi dan sosial sebagai perwujudan antara faktor lingkungan dan sosial (demografis). Banyak ahli yang memberikan batasan mengenai pengertian wilayah, tetapi definisi wilayah memiliki banyak perbedaan. Salah satu batasan wilayah dikemukakan oleh E.G.R. Taylor pada tahun 1950 sebagai berikut:
Wilayah dapat didefinisikan sebagai suatu daerah tertentu di permukaan bumi yang dapat dibedakan dengan daerah tetangganya atas dasar kenampakan karakteristik tertentu.

Walaupun ada berbagai macam pengertian wilayah, ada beberapa unsur persamaan yang bila disimpulkan, yaitu: mendasarkan definisi pada gejala-gejala kemanusiaan (human fenomena), mendasarkan pada gejala-gejala alamiah (natural fenomena) dan mendasarkan pada gejala-gejala geografi (geografi fenomena) dengan menghubungkan antara faktor alamiah dan faktor manusiawi.
Pewilayahan adalah usaha membagi permukaan bumi dengan tujuan tertentu. Pembagian wilayah dapat mendasarkan pada kriteria tertentu, seperti: administratif, politis, ekonomis, sosial, kultural, fisis, geografis dan lainnya.
Pewilayahan di Indonesia erat hubungannya dengan pemerataan pembangunan dan mendasarkan pembagian sumber daya lokal, sehingga prioritas pembangunan dapat dirancang dan dikelola sebaik-baiknya. Pewilayahan untuk perencanaan pengembangan wilayah di Indonesia mempunyai tujuan, sebagai berikut:
1.  Penyebaran pembangunan, untuk menghindari pemusatan kegiatan pembangunan di daerah tertentu.
2.  Menjamin keserasian dan koordinasi antar berbagai kegiatan pembangunan di setiap daerah.
3.  Memberikan pengarahan kegiatan pembangunan untuk pemerintah, swasta maupun masyarakat umum (Hairy Hadi, 1974).

A.    Klasifikasi Wilayah
Wilayah dapat diklasifikasikan menjadi empat, yaitu;
1.   Wilayah Homogen
Wilayah homogen adalah wilayah yang mempunyai sifat atau ciri-ciri yang relatif sama. Sifat atau ciri-ciri yang sama ini misalnya daerah dengan stuktur produksi dan konsumsi yang homogen, daerah dengan tingkat pendapatan rendah/miskin, daerah dengan mata pencaharian penduduknya relatif sama), wilayah yang mempunyai topografi atau iklim yang sama), agama, dan suku yang sama menunjukkan bahwa wilayah homogen di batasi berdasarkan keseragamamnya secara internal (internal uniformity). Contoh wilayah homogen adalah pantai utara Jawa barat (mulai dari indramayu,subang dan karawang).

2.   Wilayah Nodal
Wilayah nodal (nodal region) adalah wilayah yang secara fungsional mempunyai ketergantungan antara pusat (inti) dan daerah belakangnya (interland). Tingkat ketergantungan ini dapat dilihat dari penduduk, faktor produksi, barang dan jasa, ataupun komunikasi dan transportasi. Pengertian wilayah nodal yang ideal untuk digunakan dalam analisis ekonomi wilayah, mendefinisikan bahwa wilayah tersebut sebagai ekonomi ruang yang di kuasai oleh beberapa pusat kegiatan ekonomi
Wilayah homogen dan wilayah nodal memainkan peranan yang berbeda di dalam organisasi tata ruang masyrakat. Perbedaan ini dapat terlihat pada arus perdagangan. Dasar yang di gunakan wilayah homogen adalah out put yang dapat diekspor bersama dimana seluruh wilayah merupakan suatu daerah surplus out put tertentu. Hal ini mengakibatkan bahwa di berbagai tempat di wilayah tersebut kemungkinan kecil akan mengadakan perdagangan secara luas. Sebaliknya, dalam wilayah nodal pertukaran barang dan jasa secara intern dalam wilayah tersebut merupakan suatu hal yang harus ada. Biasanya daerah belakang akan menjual barang-barang mentah (raw material) dan jasa tenaga kerja pada daerah inti, sedangkan daerah inti akan menjual ke daerah belakang dalam bentuk barang jadi.

3.   Wilayah Administratif
Wilayah Administratif adalah wilayah yang batas di tentukan berdasarkan kepentingan administrasi pemerintahan atau politik, seperti: propinsi, kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan, dan RT/RW. Penggunaan wilayah administratif lebih sering digunakan disebabkan oleh dua faktor, yaitu:
·      Dalam kebijaksanaan dan rencana pembangunan wilayah di perlukan tindakan dari berbagai badan pemerintahan. Dengan demikian,lebih praktis apabila pembangunan wilayah di dasarkan pada suatu wilayah administrasiyang telah ada.
·      Wilayah yang batasnya di tentukan berdasarkan atas suatu administrasi pemerintah lebih mudah di analisis, karena sejak lama pengumpulan data di berbagai wilayah berdasarkan pada wilayah administrasi.

4.   Wilayah Perencanaan
Wilayah perencanan (planning region atau programming region) merupakan wilayah yang memperlihatkan kesatuan keputusan-keputusan ekonomi. Wilayah perencanaan dapat dilihat sebagai wilayah yang cukup besar untuk memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan penting dalam penyebaran penduduk dan kesempatan kerj. Namun kecil kemungkinannya persoalan-persoalan perencanaannya  dapat dipandang sebagai satu kesatuan. Wilayah perencanaan bukan hanya dari aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga dari aspek ekologis. Misalnya dalam kaitannya dengan pengelolaan daerah aliran sugai (DAS). Pengelolaan daerah aliran sungai harus direncanakan dan dikelola mulai dari hulu sampai hilir.Contoh wilayah perencanaan, dari aspek ekologis suatu DAS.

B. Pusat Pertumbuhan
Pusat pertumbuhan merupakan wilayah atau kawasan yang pertumbuhannya sangat pesat, sehingga dijadikan sebagai pusat pembangunan yang dapat memengaruhi kawasan di sekitarnya. Pusat pertumbuhan ini biasanya terdapat pada pusat kota maupun ibukota. Dengan adanya pusat pertumbuhan, diharapkan kawasan di sekitarnya ikut terpengaruh untuk maju. Beberapa contoh kawasan pusat pertumbuhan, antara lain kota Jakarta – Bogor – Tangerang – Bekasi atau Jabotabek, pusat industri Batam, segitiga pertumbuhan Singapura – Johor – Riau atau segitiga SIJORI, dan sebagainya.

1.    Konsep-konsep Pusat Pertumbuhan
Water Christaller (dalam Nurmala Dewi, 1997), seorang ahli geografi berkebangsaan Jerman, mengatakan bahwa sebagai kawasan yang berpengaruh luas terhadap wilayah-wilayah di sekitarnya, pusat pertumbuhan dapat dicitrakan dengan titik-titik simpul yang berbentuk geometris heksagonal (segi enam). Wilayah segi enam itu merupakan wilayah-wilayah yang penduduknya terlayani oleh tempat sentral yang bersangkutan. Tempat-tempat sentral yang dimaksud dapat berupa pusat perbelanjaan, kota, atau pusat kegiatan lainnya, sehingga wilayah atau tempat-tempat lain di sekitarnya akan tertarik. Misalnya, ibukota provinsi dapat menarik beberapa kota atau ibukota kabupaten, ibukota kabupaten menarik beberapa kecamatan, dan seterusnya.
Ditinjau dari luas kawasan pengaruhnya, hierarki sentral dapat dibedakan menjadi:
a)      Tempat Sentral Berhierarki Tiga
Tempat sentral berhierarki tiga adalah pusat pelayanan yang berupa pasar yang selalu menyediakan barang-barang bagi kawasandi sekitarnya (kasus pasar yang optimum atau asas pemasaran).
k = 3
k = 6 (1/3) + 1
(k = 3) diperoleh dari penjumlahan kawasan tempat yang sentral (1) dengan satu pertiga (1/3)  bagian kawasan yang ada di sekelilingnya yang jumlahnya ada enam (6). Untuk membangun lokasi pasar ataupun fasilitas umum lainnya, sekurang-kurangnya harus di kawasan yang diperkirakan dapat berpengaruh terhadap 1/3 penduduk dari keenam kawasan yang ada di sekitarnya. Sebagai penunjangnya, maka dalam pembangunan lokasi tersebut perlu memperhatikan hal-hal berikut ini, yaitu:
·      jalan beserta sarana angkutannya
·      tempat parkir
·      barang yang dijualbelikan.
b)      Tempat Sentral Berhierarki Empat
Tempat sentral berhierarki empat merupakan pusat sentral yang memberikan kemungkinan rute lalu lintas yang paling efisien situasi lalu lintas yang (k = 4) diperoleh dari penjumlahan kawasan tempat sentral (1) dengan setengah (½) bagian kawasan yang ada di sekitarnya, yang berjumlah enam (6).
k = 4
k = 6 (½) + 1
Penempatan lokasi terminal kendaraan sekurang-kurangnya harus memiliki kawasan pengaruh setengah dari enam kawasan tetangganya. Dengan demikian, terminal harus berada pada tempat yang mudah dijangkau oleh para pemakai jasa angkutan yang secara sentral memiliki radius relatif sama ke segala arah.
c)      Tempat Sentral Berhierarki Tujuh
Tempat sentral berhierarki tujuh dinamakan juga situasi administratif yang optimum atau asas administratif, yaitu tempat sentral yang memengaruhi seluruh bagian wilayah tetangganya. Situasi administratif yang dimaksud dapat berupa kota pusat pemerintahan.
k = 7 = 6 (1) + 1
(k = 7) diperoleh dari penjumlahan kawasan tempat sentral (1) dengan satu (1) bagian kawasan sekitarnya, yang berjumlah enam (6). Tempat yang sentral dari pusat kegiatan administratif pemerintahan pada hierarki tujuh (k = 7) merupakan kawasan yang luas jangkauannya. Kawasan tersebut harus mampu menjangkau dan dijangkau kawasan yang berada di bawah kekuasaannya. Lokasinya berada di wilayah yang mempunyai jarak relatif sama dari semua arah. Berada pada rute kendaraan umum yang terjangkau semua arah. Dengan begitu, diharapkan tidak menimbulkan kecemburuan sosial pada masyarakatnya.

2 comments:

  1. blog yg bagus mba.. penulisan blog yg rapi dapat membantu belajar menjadi lebih mudah :)

    ReplyDelete
  2. Berbeda dengan kurikulum 13 , tapi lumayan bagus . Good job , author...

    ReplyDelete